kebertubuhan Merleu Ponty dan Kongo Zen. Pemahaman Tubuh dalam modernitas







Maurice Merleu Ponty 

 ide mengenai tubuh mungkin sudah menjadi pembahasan yang tidak pernah berhenti dalam kehidupan manusia, mulai dari teknik pengobatan hingga praktek olahraga serta gaya hidup, pembahasan akan tubuh adalah sebuah pembahsan yang tidak pernah habis.

namun bagaimanakah jika aspek tubuh ini dibahas secara khusus untuk memahami kesadaran serta relasi akan dunia?

Kebertubuhan oleh Merleu Ponty : mengenal tubuh sebagai medium dunia 

    ide mengenai tubuh sebagai sebuah medium mungkin tidak pernah terjamah selama ini di berbagai disiplin ilmu. secara khusus keberadaan tubuh cenderung dibahas sebagai bagian dari ilmu medis atau sejenisnya sebagai sebuah sarang simptomatik tertentu yang harus disembuhkan. namun dalam sudut pandang tertentu ide mengenai tubuh dapat dijelaskan sebagai sebuah keberadaan yang menjelaskan  dunia serta kesadaran yang lebih mendalam. dalam hal ini Merleu Ponty menggunakan tubuh sebagai penerima fenomen didalam dunia yang menerima secara kontinu berbagai aspek didalamnya. keberadaan tubuh disini tidak dipandang sebagai sebuah keberadaan yang menciptakan suatu fenomen namun juga sebagai bagian dari fenomen ini sendiri. namun secara khusus fenomenologi yang dipahami oleh merleu Ponty terbilang cukup otentik. dalam pandangan umum mengenai fenomenologi, keberadaan pmbentuk suatu fenomena lebih bersifat sebagai komponen bagi terjadinya suatu fenomena, menanggapi hal ini, sudut pandang Merleu Ponty justru berkutat pada aspek didalam komponen pembentuk fenomena ini sendiri. dalam hal ini Merleu Ponty melihat jika masing-masing komponen membawa fenomennya sendiri, sehingga fenomenologi seharusnya mendedah fenomen untuk kembali pada masing-masing aspek yang dibawa masing-masing komponen. 

    secara khusus sudut pandang fenomenologi menjelaskan mengenai bagaimana sebuah fenomena terjadi tidak bisa dilepaskan dari berbagai aspek yang terjadi di sekitarnya. dengan kata lain sebuah kejadian tertentu terjadi tidak hanya  hal tersebut ada secara tiba-tiba dan selesai ketika kejadian tersebut berakhir dalam sebuah konklusi. namun lebih jauh suatu kejadian akan memicu kejadian lain dan akan terus berlanjut mempengaruhi hal lain dan menjadi kejadian lainnya. dalam sudut pandang ini Merleu Ponty menjelaskan jika keberadaan tubuh manusia adalah sebuah medium yang menerima fenomena dan membuat kesadaran pada fenomena-fenomena yang terjadi sebagai sebuah pengalaman. 

    salah satu penjelasan yang cukup menarik dalam kebertubuhan yang dijelaskan oleh Merleu Ponty adalah hubungan antara Persepsi-Kiasmus-Pengalaman. dalam penjelasan mengenai persepsi, Merleu Ponty memberi penjelasan jika persepsi adalah sebuah upaya memahami konteks dengan melibatkan tubuh dan berbagai proses penginderaan sebagai cara untuk membaca keadaan dan menentukan apa yang sedang terjadi pada sekitar. proses pembacaan ini tidak hanya melibatkan pikiran namun juga berbagai sensasi yang dirasakan oleh tubuh ketika menerima berbagai impuls dalam keseharian. dngan kata lain proses pembentukan persepsi adalah sebuah roses yang tidak pernah berhenti terjadi didalam hidup manusia dan akan terus terjadi selama manusia masih dalam kondisi hidup. 

    lebih jauh dalam melakukan pembentukan persepsi, keberadaan indrawi serta berbagai aspek yang terlibat didalamnya melibatkan suatu proses yang disebut sebagai kiasmus. istilah kiasmus disini dapat dipahami sebagai sebuah keterkaitan proses yang terjadi pada suatu fenomena. dalam hal ini kiasmus terjadi ketika berbagai sistem biologis didalam tubuh menoba menerima impuls serta membaca fenomen dan menanggapinya dengan proses tertentu. sebagai contoh adalah ketika sedang mengalami ketakutan, dimana kondisi tubuh mempercepat detak jantung dan pada saat yang sama otot kaki atau tangan menjadi lebih aktif untuk berlari atau melindungi diri. keterlibatan sistem biologis dalam tubuh yang terjadi pada saat tertentu ini tidak hanya melibatkan sistem saraf namun juga sistem lain yang berhubungan. 

    ketika tubuh terlibat didalam sebuah fenomena dan melewati hal tersebut dengan suatu kondisi tertentu dan mengingatnya, maka kondisi yang sudah dialami oleh tubuh ini disebut sebagai pengalaman. dalam hal pengalaman, keberadaan tubuh tidak hanya melibatkan persepsi, namun juga sensasi yang diperoleh  sehingga tubuh membuat suatu pola ingatan yang nantinya akan digunakan sebagai batas tertentu dalam menangggapi suatu fenomena. sccara garis besar keberadaan sensasi ini oleh merleu Ponty dijelaskan sebagai sebuah comunion dari keterlibatan pengalaman dan juga kiasmus didalam tubuh ketika menanggapi fenomen.   

    selain sebagai penerima fenomena yang dapat dirasakan oleh indrawi dan persepsi, keberadaan tubuh juga merupakan penerjemah bagi berbagai aspek material atau obyek natural yang berada diluar tubuh itu sendiri. sebagai contoh adalah bagaimana kita menjelaskan keberadaan benda seperti batu dengan berbagai sifat dan karakteristiknya yang tidak hanya sekadar keras namun juga memiliki bentuk yang berbeda dan kilau yang berbeda hanya dengan menggunakan sentuhan dan penglihatan. secara tidak langsung contoh kecil ini kembali lagi menjelaskan pendapat Merleu Ponty mengenai tubuh sebagai jangkar dunia. hal ini dikarenakan setiap kali kita bertemu dengan berbagai obyek natural yang berada diluar tubuh dan memanfaatkannya atau hanya sekedar mengamatinya, kita terus menerus melibatkan tubuh untuk membaca kemungkinan atau juga ingatan yang sudah diperoleh dari pengalaman sebelumnya secara terus menerus. dengan kata lain keberadaan pengalaman serta sesnsasi yang dialami oleh tubuh akan secara tidak disadari mengendap menjadi sebuah referensi bioogis dal memahami suatu materi eksternal. 

    selain sebagai penerjemah dunia eksternal tubuh dan penerima fenomen, keberadaan tubuh juga cukup penting untuk menjelaskan keberadan identitas manusia melalui keberadaan obyek kultural. secara khusus distingsi obyek kultural dan obyek natural dijelaskan oleh Merleu Ponty sebagai obyek yang terus menerus diamati dan dikelola oleh manusia melalui keterlibtan tubuh dan kesadarannya. dalam hal ini obyek kultural memang dibedakan secara khusus oleh karena keberadaan obyek kultural merupakan obyek yang bersifat artifisial oleh manusia. dalam penjelasannya mengenai obyek kultural ini, Merleu Ponty memberi penjelasan secara khusus jika keberadaan obyek kultural "memancarkan sebuah atmosfir kemanusiaan". lebih detil hal ini dijelaskan sebagai sebuah artifak "tindakan" manusia yang muncul dalam keberadaan benda-benda. sebagai contoh ketika menemukan potongan kaca didalam hutan, kita mendapat kesan mengenai orang yang datang dengan tidak berhati-hati dengan dirinya sendiri karena mengotori lingkungan. juga ketika melihat patung-patung dewa ditempat tertentu seperti puncak bukit, kita membayangkan betapa disucikannya tempat tersebut. 

    namun secara khusus keberadaan tubuh menanggapi keberadaan orang lain akan sangat berbeda dengan ketika menanggapi keberadaan obyek kultural ataupun obyek natural. hal ini dikarenakan manusia merupakan obyek kultural yang hidup namun juga memberikan nilai baru bagi tubuh untuk menanggapinya. sebagai contoh dari hal ini adalah keberadaan interaksi yang dilakukan melalui sebuah percakapan atau bentuk konseptual tertentu seperti seni dan juga proses kerja. semua hal ini secara berkelanjutan memberikan ruang tiada henti bagi kiasmus masing-masing individu untuk mengenal dan menanggapi keberadaan nilai yang baru tersebut. 


Kongo-Zen dan tubuh manusia, mengembalikan kesadaran melalui latihan beladiri


    Kaisho So-Doshin dalam buku What is Shorinji Kempo menjelaskan jika keberadaan kenyaaan tertinggi manusia akan selalu berubah dan akan dialami dengan berbagai ke-tidakpastian. oleh karena hal inilah maka manusia perlu memiliki pengetahuan dalam menerimanya. ide yang disampaikan oleh kaisho ini sejatinya tidak berangkat secara otentik dari beliau namun merupakan ide dasar dari Zen-Buddhism yang memahami jika kenyataan tertinggi dari hidup adalah seluruhnya  fana dan kenyataan yang dialami tiap orang adalah ilusi, namun untuk memahami pemahaman yang mendalam ini masing-masing individu harus memiliki kesadaran yang sangat mumpuni untuk sangat sadar akan realitanya dan mau mengambil resiko untuk menerima kenyataan tadi dan membebaskan diri dari keterikatan ilusi agar mampu menerima kenyataan seutuhnya. 
    namun upaya untuk memperoleh pengetahuan hingga menyadari kenyataan ini seluruhnya dilakukan dengan melibatkan tubuh. dalam hal ini proses menerima kenyataan tidak hanya dengan menerima realitas sebagaimana mestinya melalui ide atau juga batin namun juga melalui penginderaan. oleh karena proses penerimaan realita ini berjalan terus dan sesuai dengan proses kiasmus maka keberadaan tubuh harus beradaptasi terus menerus. oleh karena alasan inilah maka tubuh tidak hanya harus kuat dalam kondisi fisik namun juga adaptif dalam menanggapi keadaan yang selalu berubah. dari ide inilah maka Kongo-Zen diajarkan dengan menggunakan media yang melibatkan pelatihan tubuh dan pikiran secara bersamaan.
    dari ide untuk mengajarkan Kongo-Zen secara praktis inilah metode latihan beladiri Shorinji Kempo dipilih oleh So-Doshin oleh karena keterlibatan kesadaran dengan kndisi realita masingmasing individu dapat bertemu dan nampak dari proes latihan beladiri yang dilakukan. dalam latihan beladiri Shorinji Kempo, masing-masing individu diharuskan untuk memahami masing-masing kondisi melalui upaya berlatih secara berpasangan. dari hal ini akan nampak bagaimana masing-masing individu memahami batasan kondisi tubuh mereka serta upaya apa yang harus dilakukan untuk mengatasi kekurangan yang nampak. 
    setiap teknik yang ada didalam kurikulum Shorinji kempo berdasar pada sebuah kondisi yang menuntut keterampilan adaptasi dari masing-masing praktisinya, sehingga setiap proses pelatihan yang dilakukan akan sangat berbeda bagi masing-masing individu. namun meski demikian proses pemahaman ini akan semakin berkembang hingga pada tahap refleks.
    secara khusus latihan beladiri dalam Shorinji Kempo tidak hanya menuntut adanya pemahaman secara teknis fisik bagi masing-masing individu. pemahaman secara konseptual secara tidak disadari ikut berkembang didalam proses berlatih, hal ini dikarenakan didalam beladiri Shorinji Kempo setiap teknik yang ada didalam kurikulum bisa menjadi sempurna apabila masing-masing praktisi melakukan "peran" yang diberikan dengan baik. hal ini dikarenakan teknik beladiri tidak bisa dengan sempurna terjadi tanpa ada kondisi represif, dari hal ini masing-masing individu yang berlatih dituntut untuk mampu mengendalikan emosi & mental serta kapasitas fisiknya untuk melakukan peran yang diberikan secara sempurna.
    proses pelatihan dengan menjadi peran yang bertahan dan menyerang yang digunakan didalam beladiri Shorinji kempo merupakan proses pelatihan yang cukup dinamis untuk mempelajari kondisi "tidakpasti" yang kemungkinan bisa terjadi didalam realita. sebagai penyerang hal yang dituntut untuk bisa dipelajari adalah bagaimana mengkondisikan tubuh dengan inisiatif untuk melakukan tiap serangan dengan kondisi otot yang maksimal dan efisien, sedangkan sebagai yang bertahan yang ditunutut adalah bagaimana mengkondisikan tubuh untuk tetap fokus dan mampu mengatur tenaga untuk membaca pergerakan lawan dan membaca titik lemah yang terbuka. secara keseluruahn proses pembagian peran ini adalah sebuah proses berkelanjutan yang membentuk refleks secara perlahan sehingga kiasmus yang disebut sebagai latihan beladiri ini pada akhirnya menanamkan reflek pada tubuh praktisi mengenai kondisi tertentu yang kemungkinan akan terjadi.  


KESIMPULAN 
 konsep beladiri Shorinji Kempo dan kebertubuhan Merleu Ponty merupakan dua gagasan konseptual yang secara kebetulan bertemu dalam ruang realita. hanya saja perbedaan mendasarnya adalah bagaimana upaya membaca realita dari masing-masing penggagas ini benar-benar mampu digunakan dan dibaca oleh masing-masing pembelajarnya. 
    secara signifikan perbedaan kontekstual yang memunculkan ide mengenai pemahaman akan tubuh ini memang didasari oleh tujuan yang berbeda. jika Merleu Ponty membahas keberadaan tubuh sebagai media penerima realita maka So Doshin memaknai tubuh lebih dari media memahami realita, lebih jauh So Doshin memahami jika tubuh juga merupakan sebuah unit biologis yang mampu berkembang dan mampu lebih jauh melakukan pembacaan realita 
    namun secara bersamaan keberadaan tubuh sebagai media penerima realita merupkan sebuah ide baru untuk berkembang. dalam hal ini ide kiasmus yang saling bertemu dan saling bertukar pemahaman mengenai masing-masing realita merupakan kenyataan yang juga dimaknai oleh Doshin So sebagai metode untuk berkembang. secara tidak disadari ide menjadikan beladiri sebagai wadah untuk bertukar pemahaman mengenai realita adalah sebuah ide untuk menjadikan ruang latihan sebagai alam artifisial untuk masing-masing kiasmus bertemu satu sama lain .
    

    


Komentar