Klitih dan terminologi beladiri, sebuah korelasi dalam ambiguitas

 




klitih pada beberapa waktu yang lalu sempat menjadi sebuah topik yang diperbincangkan oleh banyak media. fenomena ini banyak disorot oleh karena terjadi diwilayah yang padat dengan pelajar.

hal ini sejujurnya mengingatkan saya pada rekan studi saya ketika di Jogja, dimana yang bersangkutan memang meneliti fenomena klitih sebagai bagian studinya.

setidaknya ada sebuah ruang yang cukup sempit diantara klitih dan beladiri dimana masing-masing ide memberi tempat bagi individu untuk menjadi pelaku kekerasan serta menjadi pelaku yang menyintas kondisi agresi. namun perbincangan ini perlu untuk diperhatikan lebih lanjut oleh karena konteks yang dihidupi saat ini berada pada lingkup pemahaman yang berbeda.


sekilas tentang klitih

    pemahaman saat ini tentang klitih agaknya memang mengalami pergeseran dalam pemaknaan dan konteks historis. secara singkat pengertian klitih berangkat dari bahasa jawa yang berarti kegiatan pribadi yang dilakukan dengan tujuan beristirahat dari kesibukan dan berjalan-jalan dilingkungan sekitar untuk menyegarkan pikiran, jika dibanding dengan pengertian sekarang istilah ini mungkin mirip dengan cari angin atau mengisi kegabutan. namun oleh karena kondisi tertentu yang terjadi di wilayah Jogja pada medio 90an keberadaan istilah ini menjadi berubah.

    kondisi pada tahun 90an di Jogja bisa dikatakan menjadi mncekam bagi sekelompok siswa SMA. pada masa ini Jogja kerap disibukkan dengan berita tawuran pelajar yang terjadi diberbagai wilayah. secara tidak langsung era ini tidak hanya menjadi era yang penuh dengan cerita pertarungan berdarah anak sekolah di Jogja, di Jakarta hal serupa juga sering terjadi. bagi pihak yang kalah dalam aksi tawuran pelajar di Jogja ada kalanya pihak yang kalah membalas dendam dengan melakukan serangan balasan dimalam hari dengan cara yang senyap dan dalam jumlah pelaku yang cukup sedikit. dari masa ini mulailah muncul istilah klitih. dimana istilah ini memang sering digunakan sebagai istilah untuk kegiatan jalan-jalan dimalam hari sembari menghilangkan penat.

    seiring berjalannya waktu keberadaan tawuran pelajar di Jogja mengalami penurunan, kondisi semakin stabil dan para pelajar yang terbentuk dalam kelompok-kelompok tertentu semakin diawasi dengan ketat. namun mirisnya kondisi ini tidak serta merta menghilangkan aksi kekerasan yang dilakukan oleh pelajar. meski sudah tidak ada pemberitaan yang gencar mengenai perkelahian pelajar secara berkelompok, keberadaan aksi klitih masih terjadi. dalam penelitian yang dilakukan oleh rekan saya keberadaan pelaku klitih ini memiliki ciri yang cukup signifikan. 

    hal yang seperti menjadi repetisi pada pelaku klitih biasanya diawali oleh karena adanya kondisi kekerasan dalam lingkup hidup pelaku. lalu selanjutnya yang menjadi penyebab munculnya aksi ini adalah kondisi kelas sosial serta upaya konsolidasi konflik yang dilakukan dari lingkup pihak yang mengalami tekanan. secara singkat para pelaku klitih ini adalah para anak-anak muda usia remaja yang mendapat tekanan secara batiniah dalam lingkup sosialnya dan tidak mampu melampiaskan rasa sakit dalam batinnya hingga pada akhirnya memilih cara kekerasan sebagai upaya katarsis. olah karena hal ini maka deskripsi klitih mulai berubah menjadi upaya mencari mangsa pada sore hingga malam hari dengan modus melukai korban dan kabur setelah melakukan aksinya. yang perlu diingat disini adalah kondisi korban bukanlah tanggung jawab pelaku secara penuh, sehingga keberadaan korban entah itu tewas ataupun hanya terluka tidak begitu menjadi capaian dari pelaku. dengan kata lain para pelaku klitih hanya ingin melakukan tindak kekerasan pada orang yang tidak jelas identitasnya yang terlihat secara kebetulan oleh pantauan pelaku.  

secara singkat istilah klitih ini dapat disimpulkan sebagai sebuah upaya pelampiasan tekanan batin dengan upaya kekerasan yang dilakukan oleh individu berusia muda dan tidak tergantung pada identitas korban.


terminologi beladiri dan salah kaprah pemaknaannya

    beberbda dengan klitih, beladiri merupakan sebuah upaya pelatihan tubuh yang tujuan utamanya adalah menyiapkan kesadaran tubuh pada kondisi tidak menentu yang mengancam fisik dari praktisinya. secara harafiah istilah beladiri ini sendiri cukup banyak dimaknai dengan berbagai istilah dan perspektif dan juga berkelindan dengan sejarah  dan politik. secara umum pengertian beladiri di barat dan timur memiliki perbedaan makna yang cukup jauh berbeda dan kadangkala menjadi sebuah ambiguitas tersendiri dalam penggunaannya. 

    sebagai contoh disini adalah istilah martial art yang digunakan oleh orang barat dalam menyebut beladiri. istilah martial art jika diartikan secara bebas adalah seni yang berhubungan dengan olah tubuh dan bisa berakibat fatal jika dekenakan pada orang lain. faktanya istilah ini hanya sebatas menjelaskan satu aspek dalam ilmu beladiri dan hal yang dijelaskan dari istilah ini hanya sebatas fungsi kegunaannya saja. secara khusus keberadaan beladiri dalam sejarah eropa cukup banyak berkembang dalam masa perang para monarki dan muncul dalam bentuk-bentuk kegiatan olahraga perang yang berakar dari era Yunani-Romawi kuno. sebut saja dalam masa-masa peradaban Eropa kuno olahraga seperti Gladiator, Pancreat, hingga  Tinju, semua olahraga ini berakar pada pertarungan dan kelihaian dalam bertarung satu lawan satu dengan pertruhan modal tertentu disuatu arena. namun dalam sejarah Romawi ada ritual khusus untuk dewa Ares dimana pertarungan dilakukan dengan dengan bertarung hingga berdarah, tercurahnya darah dalam aksi ini adalah sebuah bentuk penghormatannya.

    lebih jauh konsep ini diteruskan diberbagai monarki eropa dan dimaknai sebagai sebuah kompetisi olahraga yang maskulin dan terhormat sehingga ada upaya bagi individu dari kelas menengah kebawah untuk bisa berkompetisi dengan kaum bangsawan dan mendapat penghormatan tertentu melalui kompetisi olahraga bertarung ini meski kesempatannya sangat kecil. hal ini dikarenakan pertarungan dan olahraga kombat adalah kemampuan wajib para bangsawan di medan perang sehingga kompetisi bertarung satu lawan satu hanya diperuntukkan bagi kaum bangsawan eropa kala itu. seiring berjalannya waktu konsep ini masih digunakan dijaman industrialisasi dengan memasukan ide bertarung secara terhormat satu lawan satu dengan tangan kosong dan tidak boleh menendang, dari sinilah istilah boxing dimunculkan dan digunakan hingga saat ini.

    secara singkat keberadaan pemaknaan beladiri di barat cenderung berada pada fungsi kegunaannya sebagai olahraga dan media kompetisi yang cukup terikat pada kelas sosial tertentu.

    dalam pemaknaan yang dilakukan di timur, keberadaan beladiri cukup sering berkelindan dengan identitas kelas, moral dan religi. dalam hal ini konsep pertentangan kelas masih sama kuatnya seperti di barat namun upaya menjadikan beladiri sebagai sebuah nilai yang cukup kontras dengan nilai kegunaannya lebih sering diperlihatkan. sebagai contoh di Jepang, dimana pengertian beladiri disebut sebagai Budo dan dikembangkan sebagai cara hidup yang khusus yang disebut Bushido dimana keduanya secara deskripsi cukup berbeda namun memiliki hal yang sama dalam prakteknya. hal serupa juga terjadi pada beladiri cina dimana istilah Quan-Fa/ Gong-Fu/ Kung-Fu masih berhubungan dengan istilah Wu-Xia. secara keseluruhan hubungan semua istilah ini disatukan dalam praktek beladiri yang mengolah keberadaan agresi sebagai fokus utamanya.

    secara tidak langsung keberadaan agresi dalam beladiri timur dinilai sebagai sebuah upaya yang harus bisa diredam dan dikendalikan, sehingga keberadaan praktisi yang mampu mengelola upaya agresi baik dari diri sendiri dengan pihak lawan adalah praktisi yang menguasai keilmuan dengan baik. hal ini dikarenakan keberadaan agresi tidak dihilangkan sepenuhnya namun juga dimanfaatkan dan digunakan sesuai dengan keperluan yang dibutuhkan. oleh karena hal ini para praktisi beladiri timur selalu mempelajari beladiri berserta keilmuan lain yang bersifat kontras dengan praktek beladirinya seperti kesenian, sastra dan filsafat. sedikit berbeda dengan praktek beladiri timur, dalam praktek beladiri barat nilai agresi adalah sebuah upaya untuk menjadi kompetisi. dalam upaya kompetisi ini sebuah agresi harus dilakukan dengan baik untuk menunjukan kualitas yang dominan diantara banyaknya pihak yang bersaing. 

    secara keseluruhan keberadaan beladiri dapat dijelaskan dengan berbagai identitas dengan berbagai konteksnya, namun pada akhirnya keberadaan beladiri adalah sebuah upaya mengelola nilai aggresi dengan seksama. keberadaan agresi beserta nilainya seperti kekerasan dan kontak fisik merupakan bagian nilai yang akan dimanfaatkan dengan keterampilan dari praktisinya. oleh karena hal inilah keberadaan beladiri sangat identik dengan upaya pengembangan fisik yang intens. hal ini  dilakukan oleh karena kemampuan mengelola agresi membutuhkan keberadaan tubuh yang cukup mumpuni, serta pemahaman akan kondisi ttertekan dalam agresi dengan baik.

 

Korelasi beladiri dan klitih didalam agresi 

    Konsep agresi dijelaskan oleh Erich Fromm dalam bukunya Akar dari Kekerasan adalah sebuah upaya yang muncul tidak serta-merta dari kondisi psikologis individu secara alami. keberadaan agresi akan dimunculkan dari proses pembelajaran dan proses pemahaman pada kondisi psikologis yang dipahami. dalam berbagai budaya lokal keberadaan agresi tidak selamanya dipandang sebagai upaya yang negatif. seperti halnya perang, keberadaan upaya perang ini sendiri sangat interpretatif sesuai dengan kondisi komunitas yang menghidupi. dalam artian tertentu tidak semua pihak masyarakat menyetujui keberadaan perang atau agresi oleh karena perbedaan kepentingan yang dipahami. 

    dalam hubungannya dengan klitih dan beladiri, kedua upaya ini sama-sama menanamkan agresi sebagai sebuah upaya utama yang dijadikan tujuan. namun hal yang cukup berbeda dari dua hal ini adalah tujuan dilakukannya agresi. dalam upaya klitih perilaku agresi adalah sebuah upaya yang harus dilakukan sebagai upaya melepas tekanan batin, upaya agresi yang dilakukan ketika terjadi klitih dilakukan dengan dasar pelampiasan pada tekanan batin yang cukup kuat dan cenderung membuat pelakunya merasa lega dengan upaya kekerasan yang dilakukan. sehingga dapat disimpulkan jika tindakan klitih ini adalah upaya yang bersifat lanngsung dan sangat subyektif sehingga keberadaan korban adalah hasil yang tidak dipedulikan konsekuensinya. 

    berbeda dengan klitih, keberadaan beladiri menjadikan agresi sebagai sebuah nilai yang harus dipahami dengan seksama oleh karena agresi dinilai sebagai upaya mengelola tubuh dan dapat dikendalikan secara terarah. upaya agresi ini dipahami dalam sebuah batasan dan dilakukan dalam sebuah repetisi yang biasa disebut sebagai pelatihan atau pertandingan. 

    dalam hal kesamaan mengenai klitih dan beladiri memiliki kesamaan dalam penjelasan mengenai kondisi tertekan atau melakukan upaya agresi, sedangkan perbedaan yang cukup jelas disini adalah mengenai upaya mengelola aspek didalam agresi yang dilakukan. dalam aksi klitih keberadaan agresi dilakukan dengan tujuan melampiaskan beban mental denngan melakukan kondisi kekerasan , sedangkan pada beladiri upaya melakukan agresi adalah upaya yang dilatih dengan olah tubuh dan diuji dalam lingkup kompetisi atau sebuah pertandingan. 

meski memiliki kesamaan dalam melaklukan agresi apakah tidak mungkin jika keberadaan agresi dalam beladiri menjaddi sama dengan klitih?

    dalam prakteknya kecenderungan praktisi beladiri dalam melakukan upaya agresi cenderung mengarah pada kasus bullying daripada kasus seperti klitih. al ini dikarenakan keberadaan beladiiri cenderung ditempatkan pada konteks sosial yang bersifat organisasi sehingga jika terjadi upaaya pelanggaran terhadap kapabilitas individu cendeung berada pada kondisi didalm lingkup oraginsasi in atau didalam kondisi pertaningan dengan melakukan pelanggaran peraturan. berbeda denngan aksi klitih, keberadaan klitih dilakukan dengan kondisi yang cukup anarkis dan tidak menghiraukan batasan keamanan bagi lingkup sosial. oleh karena hal inilah keberadaan klitih cenderung lebih sering berurusan dengan hukum formal daripada praktisi beladiri saat ini. 


Kongo-Zen dalam menguraikan klitih 

    kembali pada ide mengeenai Kongo-Zen yang pernah dijelaskan oleh So Doshin, maka penjelasan ini kembali pada uraian So Doshin pada kondisi manusia serta hubungannya dengan pengetahuan manusia dalam menghadapi kenyataaan. secara khusus keberadaan realita yang menjadi acuan utama Kongo-Zen ada benarnya. hal ini dikarenakan kondisi klitih tidak terjadi dalam waktu yang singkat. seseorang mampu memutuskan untuk melakukan aksi klitih pasti mengalami realita yang ditanggapi dengan cara yang menyakitkan dan terjadi secara berkelanjutan hingga akhirnya menjadi sebuah pengalaman yang menjadi subyektifitas yang dipahami sebagai kebbenaran. secara tidak langsung keberadaan realita yang dialami oleh pelaku klitih adalah sebuah pengalman baru yang membuat banyak trauma dan membebani fisik dari pelaku. dalam hal ini pelaku menerima ketidaktahuan yang dialami dengan kondisi yang sama sekali tidak bisa diterima oleh kesiapan dan pengalamannya. mungkin trauma-trauma yang dialami oleh para pelaku klitih ini benar-benar terjadi secara abusive dan menyebabkan luka fisik, atau mungkin juga secara khusus membuat kondisi kejiwaan yang dialmi dalam beberapa saat menjadi sangat kacau dan harus diterima begitu saja tanpa pemahaman yang mumpuni.

    pada dasarnya keberadaan dari pelaku klitih mengalami trauma adalah bukti jika sebuah realita  dari seseoraang tidak bisa begitu saja diterima, perlu ada kesiapan dalam menermia berbagai bentuk realita. namun ketika realita ini menjadi terlalu menyakitkan dan tidak mampu diterima dengan kesiapan yang dimiliki maka yang terjadi adalah kondisi yang menyakiti batin. hal ini seharusnya bisa diredam jika lingkungan yang dihidupi memberi ruang untuk menyalurkan trauma atau luka yanng dialami. namun jika kondisi ini tidak terjadi maka melampiaskan dalam kondisi yang melukai atau memaksa mengekang pihak lain menjadi sebuah keterpaksaan yang harus dilakukan. secara tidak langsung hal ini menjadi sesuai dengan penjelasan mengenai bentuk pemahaman agresi serta hakekat manusia dalam sudut pandang psikologi dimana keberadaan agresi meruupakan salah satu insting purba yang terpelihara sebagai upaya untuk menjaga keberadaan diri dalam kondisi terancam.
    
    hal lain yang juga dijelaskan So Doshin menngenai hal tentang kondisi masyyarakat yang hidup didalam kondisi modern adalah tentang keberadaan masyarakat yang sudah dipenuhhi dengan pengetahuan dan upayanya menggunakan pengetahuan tersebut. secara singkat keberadaan pengetahuan dalam kondisi masyarakat modern adalah mennggunakannya dengan tujuan mengolah berbagai nilai dalam hiduup dengan kapasitas sebanyak-banyaknya. secara tidak disadari hal ini menjadikan masyarakat modern adalah masyarakat yang sangat dipenuhi dengan nilai pengetahuan namun juga dituntut untuk tetap kritis dalam membangun hubungan harmonis dalam segala hal. 
    
    kondisi masyarakat modern yang penuh dengan nilai pengetahuan ini pada umumnya menekan hubungan manusia menjadi hubungan sosial yang sangat deterministiik pada peran masing-masing sesuai dengan jatidiri yang sudah dibangun. akibat dari keberadaan hubungan sosial ini adalah peran manusia dengan manusia lain pada akhirnya tidak bisa dimaknai secara utuh dan cenderung saling membutuhkan sesuai dengan keuntungan yang bisa dibagun. kurangnya perhatian pada nilai manusia secara utuh inilah yang menyebabkan berbagai upaya pelanggaran nilai kemanusiaan dapat terjadi. hal ini tidak lain adalah karena manusia kehhilangan pemahaman akan manusia lain dan membuat hubungan manusia seperti menganggap manusia lain sebagai benda atau alat pemenuh kebutuhan lainnya. 

    oleh karenna hal inilah maka diperlukan suatu wadah dimana lingkup sosial tetap bisa terjaga keutuhan nilainya dan tetap mampu menjaga cara bertindak dan berpikir mengenai manusia lainnya. dalam hal  ini So Doshin menawarkan Shorinji Kempo sebagai sebuah upaya untuk tetap melestarikan ide tersebut. didalam Shorinjji Kempo ini seseoranng tidak hanya dituntut mengerti mengenai kemampuan tubuh yang dihidupi, namun juga harus mengerti tentang hubungan manusia dengan manusia lain melalui praktek pelatihan beladiri. kedisiplinan dalam pelatihan beladiri membuat praktek beladiri menjadi sebuah upaya reflektif oleh karena masing-masing individu dituntut untuk belajar mengembangkan indivdu lain dalam prosesnya pelatihannya. hal ini dikarenakan latihan beladiri tidak bisa hanya sekadar dihafalkan namun juga harus dirasakan dengan batasan tubuh yang dimiliki. 

    dari dasar berpikir ini upaya meredam hal negatif yang mungkin dapat muncul dari tekanan dalam lingkup sosial diharapkan dapat berkurang. mengingat hal lain yang menjadi bagian dalam nilai kedisiplinan dari berlatiih beladdiri adalahh tanggung jawab simbolik sebagai senior yang bertanggungjawab mengawasi dan mengembangkan serta tanggung jawab sebagai junior yang berkewajiban untuk belajar dan menuntut ilmu dengan terus melihat realita secara reflektif didalam proses berlatih.


Ujung jalan

    menutup pembahasan kali ini setidaknya kita dapat mengerti jika keberadaan lingkup sosial kita saat ini sangat kompleks dan memiliki tuntutannya pada jaman yang berbeda. dari perbedaan jaman yang kita alami ini maka pemahaman dalam pengetahhuan yang dipahami pasti akan mengalami perbedaan. namun meski konndisi jaman menjadi berbeda kondisi sosial kadangkala berjalan dalam kondisi yang tidak jauh berbeda. dalam memahami nilai kemanusiaan, jaman yang berbeda memberi pemahaman yang berbeda akan nilai kemampuan manusia. namun meski demikian keberadaan nilai manusia secara mendasar tidak berubah. keberadaan ini menjadi semakin suulit ddipahami oleh karena banyaknya pengetahuan yang menghidupi lingkup jaman dan lingkup sosial dalam rentang waktu yang bberbeda.

    fenomenna klitiih pada dasarnya juga mengalami perubahan makna dalam beberapa rentang waktu terakhir ini. namun meski demikian, tuntutan nilai klitih masih bisa dilihat sebagai kondisi tuntutan yang sama. hal ini menunjukan jika nilai sosial dari masyarakat masih menyisakan ruang konflik yang menimbulkan aksi anarkis. keberadaan para pelaku klitih adalah bukti dari individdu yang hidup diruang tersebut dan berupaya untuk bisa bertahan dalam tekanan yang tidak bisa dibayangkan oleh pihak dari strata sosial lain. setidaknya upaya membangun pengetahuan dengan tujuan membangun hubungan harmonis masyarakat sebagai sebuah lingkup yang saling membantu dapat dijadikan acuan untuk mengurangi konflik yang berujunng pada tindak anarkis ini. 



  

    



        

Komentar