senioritas dalam konsep bushido dan Kongo-Zen : ide patronase struktural yang me-romansa dalam praktek Budo
dalam setiap beladiri timur konsep mengenai senioritas atau juga dikenal sebagai ide patronase sangat kuat mngakar mnjadi fundamental struktur sosial institusi bahkan sampai pada taraf kekeluargaan simbolis. namun keberadaan konsep ini tidak hanya sebatas ada ide bentuk institusi, lebih jauh keberadaan ide ini juga menjadi sebuah pola habitus dimana ide memberikan ilmu dilakukan.
Bushido : ide feodalism dalam modernitas
salah satu ide yang cukup populer digunakan didalam praktek kepemimpinan institusi beladiri adalah ide mengenai loyalitas ala bushido. ide ini jika dirunut dari asalnya merupakan ide patronase yang diciptakan oleh kaum feodal Jepang untuk menjaga nilai kekuasaan dari strata tinggi hingga strata paling rendah. secara khusus ide patronase ini terikat secara militan di kalangan bangsawan serta kaum militer Jepang yang hidup di abad-16.
dasar dari ide ini tidak melulu pada masalah loyalitas serta kepatuhan dalam menjalankan aturan yang sudah disepakati. dalam Buku yang berjudul : Bushido The Soul of Samurai tulisan dari Inazo Nitobe, dijelaskan jika keberadaan ide ini berasal lebih lama pada jaman sebelum abad-16. disini Inazo nitobe menjelaskan jika keberadaan nilai-nilai Bushido lebih dekat dengan ide Zen-Buddhism yang menitik beratkan moral secara menyeluruh didalam prakteknya. sehingga jika dilihat lebih dalam, ide mengeniai Bushido bukan hanya sebatas kepatuhan karena masalah loyalitas namun juga kepatuhan pada nilai kebenaran yang menyeluruh yang dianut dalm bentuk struktur soaial.
namun yang perlu diperhatikan disini adalah keberadaan ide bushido ini sendiri muncul ketika kondisi Jepang masih dalam konteks feodalism yang sangat kuat dimana struktur kerajaan kecil di Jepang masih berserakan diberbagai wilayah jepang dan masih saling mengokupasi satu sama lain.
dalam pelaksanaannya ide mengenai bushido ini berpengaruh tidak hanya pada masalah loyalitas kaum elit, namun juga pada aspek kehidupan sosial orang Jepang hingga saat ini. salah satu aspek yang cukup terlihat dalam hal ini adalah nilai penghormatan pada generasi sebelumnya yang dinilai sebagai pihak yang sudah memberi hidup dan menjaganya untuk generasi berikutnya.hal ini sampai saat ini masih dilakukan dengan penggunaan istilah-istilah struktural yang kerap digunakan dalam struktur sosial suatu institusi seperti sekolah, perusahaan hingga lembaga masyarakat.
istilah seperti Senpai, Sense, Shihan atau bahkan Bucho, Kaicho kesemuanya ini menunjukan kepangkatan yang didasarkan pada pengalaman serta dasar yang sudah diperoleh dan dikuasai. sehingga dapat dipahami jika sistem ini agak tidak menghormati keberadaan usia dan cenderung anarkhis pada masalah ini, namun lebih jauh hal ini menilai keberadaan usia bukan sebagai batas dari penerimaan pengetahuan. selain berpusat pada masalah struktur keberadaan nilai ini juga mementingkan karakter yang dapat secara jujur dan berani menjelaskan apa yang menjadi permasalahan dalam struktur sosial yang dihidupi, disini perasaan untuk berani jujur dan bertanggung jawab menjadi sebuah tuntutan khusus yang harus dijalankan sebagai nilai penting dari menjadi seorang individu.
nilai kejujuran menjadi penting dalam pelaksanaan ide ini dikarenakan bushido adalah sebuah sistem yang harus dijalankan secara total dari atas hingga taraf paling bawah. dalam kondisi apapun semua bagian harus bisa terlibat dan saling menguatkan sehingga keberadaan senioritas bukan hanya sebagai pihak yang bertanggung jawab akan adanya kesalahan di lapisan struktur bawah namun juga mengawasi jalannya kebijakan atau nilai yang sudah diwajibkan oleh pihak pimpinan. secara tidak langsung keberadaan nilai kejujuran didalam pelaksanaan nilai bushido adalah sebuah bentuk pelaksanaan nilai secara menyeluruh bagi setiap bagian struktur sistem bushido ini sendiri.
Inazo Nitobe Ph.D merupakan seorang Perwakilan Duta Besar Jepang di Amerika pada tahun 1940an, beliau merupakan politisi yang cukup awal menjelaskan konsep Bushido bagi masyarakat barat yang kala itu menilai Jepang sebagai pihak yang bebal oleh karena ketaatan yang kuat pada sistem feodalism lawas.
secara khusus beliau menjelaskan mengapa orang barat menilai orang Jepang sebagai orang yang asing dengan nilai hidupnya
Bushido dipahami di Indonesia, sebuah paradigma
istilah bushido di Indonesia sebenarnya bukanlah istilah baru, setelah kalahnya kekuatan barat pada periode Perang Dunia-II keberadaan wilayah timur yang dikuasai oleh Jepang membuat keberadaan Jepang datang sebagai sebuah dominasi yang masuk dengan cepat didalam wilayah Indonesia. dala masa yang singkat ini keberadaan jepang tidak hanya memberi warna sejarah yang banyak dinilai menyakitkan namun juga membuka peluang baru bagi kaum revolusioner kala itu untuk membangun kekuatan baru.
dalam buku yang berjudul Revolusi Pemuda tulisan Ben Anderson, keberadaan pasukan Jepang yang masuk kedalam Indonesia tidak serta-merta mengambil sumber daya yang sudah dieksploitasi oleh Belanda pada masa sebelumnya, kedatangan jepang di Indonesia juga membuat lapsan kekuatan baru yang dikenal sebagai Heiho. tugas dari satuan ini secara singkat adalah menjaga keberadaan wilayah Indonesia yang kala itu berpusat di Jawa-Sumatra-Kalimantan dari kedatangan militer Belanda. namun keberadaan satuan ini tidak hanya didirikan sebagai satuan kemanan. lebih jauh keberadaan satuan ini juga menjadi bagian dari munculnya sekolah-sekolah rakyat yang digunakan untuk mengambil tenaga kerja uda ahli di bidang-bidang yang dibutuhkan oleh Jepang.
secara khusus keberadaan Jepang dengan dominasinya juga membawa model peendidikan baru bagi masyarakat saat itu. dalam pembentukan pasukan Heiho misalnya, kriteria serta pelatihan yang dilakukan oleh pasukan Jepang terhadap masarakat pribumi banyak menggunakan nilai-nilai bushido sebagai cara melatihnya. dalam hal ini pola latihan yang diberikan adalah dengan mengedepankan kedisiplinan yang tinggi serta keberanian untuk jujur dan bertanggung jawab. dalam salah satu wawancara yang dilakukan oleh ben Andrson cara pelatihan pasukan Jepang memang terkenal cukup keras, namun meski demikian pelatihan yang dilakukan sangat menjunjung tinggi nilai moral dan kejujuran. orang Jepang lebih bisa menghormati kejujuran daripada sikap pemalu yang cenderung dinilai sebagai kesopanan bagi orang pribumi. selain itu kebiasaan orang Jepang yang mau ikut menanggung kesalahan bawahan satuannya dalam kamp pelatihan juga membuat keberadaan pasukan pribumi untuk mau berlatih seperi halnya orang jepang.
dari sini dapat dilihat jika keberadaan ide bushido yang dibawa oleh orang jepang melalui dominasi militer menjadi sebuah ide yang menggugah keberadaan ide masyarakat muda kala itu untuk dapat mengerti nilai-nilai yang ditawarkan Jepang sebagai bagian dari aliansi Indonsia. jika diamati lagi keberadaan Bushido pada waktu ini tidak hanya diterima melalui pola pelatihan pasukan yang dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia yang saat itu butuh pelatihan militer saja, namun juga dimungkinan melalui slogan 3A yang menjadi jargon kampanye kesatuan Jepang di Indonesia.
secara khusus ide penanaman bushido kala ini masih cukup relevan dengan pola pikir bushido sebagai bentuk ketaatan pada kekaisaran Jepang yang dilakukan dalam bentuk pelatihan militer dan berbagai satuan yang dibentuk oleh Jepang sebagai simbol bahwa Jepang adalah sekutu yang sudah membawa Indonsia kedalam satu rumah identitas melaui berbagai latihan hingga satuan yang sudah dibentuk
ketika memasuki era pra-reformasi keberadaan Indonesia menjadi negara yang cukup dipimpin secara militan dalam pelaksanaannya. ide ini memang secara tak kasat mata menjadi sebuah ide yang cukup bisa dilihat di berbagai strata sosial sebagai ide yang laten namun meski demikian nilai militansi yang dilakukan lebih dapat dipahami dalam bentuk patronase patrilineal yang sangat jawasentris. dalam hal ini keberadan nilai pemimpin oleh figur ayah menjadi sebuah dominasi budaya yang tidak bisa terhindarkan.
dalam buku berjudul Pahlawan-pahlawan Belia tulisan Sasaki Shiraishi, keberadaan sosok bapak digambarkan menjadi sebuah capaian yang secara khusus diinginkan oleh siapapun namun juga ditakuti. hal ini seakan menjadi sebuah gambaran mengenai warisan Ketaatan dan loyalitas ala Bushido pada Kaisar yang diaplikasikan dalam bentuk budaya baru yang lebih modern. secara tidak langsung urusan tingkatan serta tanggungjawab yang harus dilakukan masih sama begitu juga dengan peran dari struktur yang dilakukan. dalam hal ini Shiraishi memberi contoh tentang bagaimana jlannya struktur ini didalam keluarga jika ada seorang ayah, ibu, anak sulung dan anak bungsu.
jika didalam struktur keluarga keberadaan anak bungsu tidak terpenuhi keinginannya bisa saja si anak sulung yang harus bertanggung jawab, anak sulung tidak hanya berperan menjadi penjaga si bungsu namun juga menwakili dan membantu ibu ketika ibu dan ayah sedang tidak ada. dan jika ayah dan ibu sedang berada dirumah maka segala sesuatunya harus dibicarakan dan diselesaikan sesuai dengan perintah dari ayah. secara tidak langsung keberadaan struktur ini juga mirip dengan keberadaan senioritas didalam Bushido, namun oleh karena kala ini keberadaan politik yang berkuasa adalah pihak militer maka nilai loyalitas ala militer yang taat tanpa bertanya dan segera menyelesaikan menjadi sebuah sosok yang selalu dibutuhkan dan harus dilakukan. hal ini secara tidak langsung jug sejalan dengan pola loyalitas dan ketaatan ala bushido yang dimiliki oleh kaum militer Jepang.
Kongo Zen dan Bushido : sebuah pergolakan dan refleksi
kembali ada pengertian akan kongo-Zen tentang dasar pemikiran kemanusiaan, dalam hal ini Kongo-Zen menilai keberadaan manusia adalah sebuah struktur soaial yang hidup dan berdinamika dengan alam dan pengetahuan, sehingga keberadaan manusia tidaklah bisa dipahami hanya sebatas pemikiran atau kebutuhan fisik saja. dari hal ini menanggapi dengan pemikiran bushido maka didapati jika keberadaan kongo-Zen sebagai sebuah ide tidak melepaskan keberadaan struktur sosial dan juga hirarki akan nilai sosial ini sendiri. namun lebih jauh pemikiran mengenai ide Kongo-Zen ini tidak bisa dengan sembarangan disamakan dengan Bushido secara gamblang.
jika dibaca kembali secara lebih seksama keberadaan ide Kongo-Zen memposisikan keberadaan manusia sebagai sebuah lingkup sosial yang utuh serta harus menjaga harmoni didalamnya, keberadaan harmoni ini baru bisa dicapai jika keberadaan masing-masing individu mampu mengerti otensi yang dimiliki dan mengembangkannya secara utuh baik dalam taraf fisik maupun mental. dari ide ini maka masing-masing individu dengan sadar mengambil inisiatif untuk berperan dalam realita sosial sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. berbeda dengan konsep Bushido dimana konsep ini merupakan konsep yang berada pada konteks struktur yang cukup monarkis sehingga sudah jelas siapa menjadi siapa. namun oleh karena adaptasi budaya dalam konteks tertentu maka konsep bushido ini seakan muncul sebagai ide yang masih otentik dan dianggap mumpuni untuk menciptakan struktur masyarakat yang harmonis
dalam penjelasannya mengenai Shorinji kempo, So Doshin menjelaskan jika Shorinji kempo adalaha bagian dari budaya pelatihan kemampuan beladiri yang disebut sebagai Budo. konsep budo ini dalam pemahaman banyak orang masih sering dianggap sebagai bagian dari nilai Bushido meski kenyataannya keberadaan budo bisa secara khusus berdiri sendiri tanpa nilai bushido. hal ini dikarenakan Budo lebih sebagai bentuk pelatihan nilai moral dalam praktek pelatihan beladiri. didalam Budo hal yang paling ditekankan bukanlah kemampuan bertarung, melainkan pelatihan pengendalian emosi serta kemampuan bertarung dalam dialog dua arah. dengan kata lain, keberadaan nilai Budo disini berfungsi sebagai upaya pengembangan nilai yang reflektif yang harus dilakukan dalam simulasi bertarung bagi praktisinya.
dalam pemahaman ini konsep Shorinji Kempo bisa menjadi lebih utuh oleh karena ide dasar pembentukan Shorinji Kempo dengan tujuan utama Budo bisa berjalan beriringan. didalam ide dasar Shorinji Kempo keberadaan manusia dikembangkan secara utuh melalui pelatihan fisik dalam bentuk beladiri sebagai upaya memahami keberadaan manusia yang tidak bisa berkembang tanpa adanya manusia lain. namun yang cukup berbeda disini adalah pendekatan Shorinji Kempo yang memanfaatkan dan mengeksploitasi batas kemampuan dari masing-masing manusia untuk bisa mengembangkan dirinya.
oleh karena hal inilah maka keberadaan nilai Bushido didalam Shorinji Kempo sesungguhnya tidak mutlak terjadi, namun hanya sebatas pada ide mengenai identitas tertentu yang menjadi dasar keberadaan Shorinji Kempo. kalaupun keberadaan Shorinji Kempo mutlak terjadi dengan adanya nilai Bushido maka dasar pemikiran Shorinji Kempo adalah pemikiran berdasarkan nilai senioritas mutlak dan kepatuhan tanpa kompromi. didalam Shorinji kempo nilai-nilai ini cenderung dijauhi karena membuat cacat salah satu aspek manusia dan cenderung membuat bias pemahaman jika beladiri mampu menjadi upaya pengembangan diri. alih-alih menjadi sebuah praktek beladiri yang memberi pemahaman, keberadaan nilai kompetitif dan senioritas mutlak malah membuat penanaman nilai inferioritas serta praktek balas dendam sebagai motif utama praktek latihan beladiri. jika hal ini terjadi maka yang akan ditemui adalah upaya untuk menjadi yang terkuat dan menindas yang lebih lemah. oleh karena hal inilah maka Shorinji kempo sejak awal tidak didasarkan pada nilai kompetisi atau penanaman kekuatan saja.
pada akhirnya, keberadaan nilai Bushido saat ini harus kembali dimaknai dalampraktek pelatihan beladiri secara seksama. hal ini bukan karena nilai bushido terikat secara identitas, namun lebih jauh keberadaan nilai Bushido ini sendiri sudah sangat jauh dari konteks asli penerapannya. jikalau ada nilai-nilai tertentu yang mirip dengan nilai Bushido maka perlu dipertanyakan kembali apakah nilai tersebut secara khusus adalah bagian nilai yang sangat sesuai dengan bushido atau hanya bersifat mirip dan merupakan penerapan nilai dalam konteks yang bereda?. pertanyyan ini setidaknya menjadi pengantar untuk pertimbangan lebih jauh dan harus diupayakan untuk menjadi ruang diskusi yang lebih mendalam agar praktek beladiri Shorinji Kempo seutuhnya menjadi praktek yang mebangun.




Komentar