Buddhism-Zen-KOngo Zen-Beladiri, sebuah pemikiran sederhana membedah konsep Gyo Shorinji Kempo


 mungkin ide mengenai relasi buddha hingga beladiri kungfu sangat melekat dalam cara pandang masyarakat sebagai sebuah kesatuan yang tertanam secara kolektif dari berbagai ide dan imaji yang dibangun. namun sayangnya keberadaan ini cenderung bermasalah secara historis dan perlu pembahasan yang cukup detail. setidaknya penjelasan mengenai dasar dari berbagai pemikiran dan ide dasar ini cukup menjelaskan bagaimana hubungan serta kesimpulan yang bisa didapat.


sekilas mengenai pencerahan/Buddhia hingga zen

    ide mengenai buddhism sesungguhnya hanya berkutat pada ide mengenai bagaimana seseorang memahami kondisi pencerahan yang dialami oleh karena keterlepasan dari keterikatan hubungan materi di dunia. hal ini merupakan proses panjang yang dialami Sidharta gautama ketika mendalami praktek meditasi secara mendalam diluar istananya dan mencoba mencari upaya untuk memahami kehidupan secara nyata. upaya ini pada akhirnya merumuskan 4 jalan mulia Buddha yang pada akhirnya menjadi pemikiran mendasar bagi praktek buddhism.

    dasar dari pemikiran 4 jalan mulia ini semuanya berpusat pada pemahaman mengenai Dukkha atau dapat juga disebut sebagai derita yang mengikat kehidupan manusia. keberadaan penderitaan ini adalah alasan mengapa praktek dalam Buddhism berkutat pada upaya membebaskan diri dari berbagai macam bentuk Dukkha.  sejatinya keberadaan manusia di dunia dalam pemahaman Buddhism adalah hidup dengan berbagai penderitaan dan harus berupaya agar terlepas dari kekangan atau ikatan derita ini, secara tidak langsung keberadaan derita ini adalah sebuah hakekat dan mereka yang benar-benar mengerti tentang bagaimana cara melepasnya adalah mereka yang sudah mengalami pencerahan atau Buddha. lebih jauh keberadaan derita ini tidak hanya dipandang sebagai derita dari manusia saja, keberadaan ikatan derita ini juga terjadi di alam dewa juga alam roh dari sudut pandang Mahayan. secara keseluruhan ajaran buddha dipahami sebagai sebuah ajaran untuk menemukan cara agar terlepas dari ikatan derita dan memahami kembali keberadaan manusia secara utuh didalam hakekatnya. 

    oleh karena derita adalah hal yang hakekat dan pasti terjadi pada siapapun, maka 4jalan mulia Buddha adalah langkah awal untuk memahami keterikatan manusia sebagai makhluk yang terikat derita serta memahami bagaimana menjalankan upaya melapasnya melalui tindakan yang diperlukan. 4jalan mulia ini adalah :Kebenaran tentang adanya Dukkha, Kebenaran tentang sebab adanya Dukkha, Kebenaran tentang lenyapnya Dukkha, dan yang terakhir adalah Kebenaran mengenai jalan berunsur delapan menuju akhir Dukkha. dari dasar pemikiran ini maka hal yang perlu dilakukan adalah melatih diri untuk terus berada pada kesadaran mengenai realita yang dialami sebagai sebuah upaya untuk menyempurnakan diri kepada kondisi utuh yang terlepas dari Dukkha. dari hal ini maka dibentuklah latihan mendisiplinkan tubuh yang dilakukan dalam bentuk meditasi sebagai upaya melihat kedalam diri secara penuh. 

    selain upaya meditasi yang dilakukan, upaya mendisiplinkan pemikiran juga perlu dilakukan sebagai upaya untuk tetap tersadar akan keberadaan Dukkha serta keterikatan didalamnya yang merupakan bagian dari realita manusia. oleh karena hal inilah maka meditasi tidak cukup, perlu upaya lain agar kesadaran mengenai pikiran juga seimbang dengan tujuan meencapai buddha. maka dari sini dilakukan pelatihan seccara reflektif mlalui upaya kritis dengan memahami nilai kebenaran dan tindakan yang mengarah pada realitas kebenaran. upaya-upaya ini adalah praktek dasar yang menjadi pembiasaan dalam Buddhism dan menjadi sentral praktek buddhism. secara tidak disadari praktek ini memang masih berhubungan dengan Hinduism mengenai upaya mencapai moksa. namun secara khusus pemikiran buddhism berkembang dikalangan pemikir asia dan sebagian timur tengah hingga akhirnya menjadi dua aliran pemikiran besar yaitu Mahayana dan Teravada.

    pemikiran Mahayana dan Teravada ini nantinya akan saling berkembang dan menjadi pemikiran yang diterima secara luas diabad ke7-9m. secara ide keberadaan Mahayana dan teravada berbeda pada sudut pandang dalam aspek pembahasan Dukkha. dalam pemikiran Teravada ide dasar yang digunakan adalah keberadaan keterikatan perasaan dan pemikiran adalah ilusi dan yang diluar hal ini adalah kenyataan. selain dari  teravada, pemikiran mahayana memiliki sudut pandang yang lebih luas. dalam pemikiran mahayana segala sesuatu yang dialami oleh manusia adalah keberadaan yang bersifat semu namun apa yang diluar itu adalah kenyataan sesungguhnya, secara keseluruhan keberadaan Mahayana & teravada memberi pembeda dalam bagaimana memahami Dukkha, dari ide ini keberadaan Mahayana dan Teravada berkembang secara khusus dibeberapa wilayah Asia dan Timur tengah. 

    Perkembangan terakhir dari pemikiran ini adalah pemikiran Zen buddhism yang dibentuk oleh Dharma Taishi. pemikiran ini berkembang dari Mahayana dan diajarkan di China hingga berkembang menjadi sebuah pemikiran Budddhism yang paling banyak diterima dan menjadi sebuah aliran Buddha yang paling populer yang berhubungan denngan dunia film dan dunia budaya populer. pemikiran Zen Buddhism melihat segala sesuatu yang ada dalam hidup adalah hal yang semu. dari ide ini keberadaan realita menurut Zen budddhism adalah sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, hal ini dikarenakan segala sesuatu yang berada didalam dunia berakhir pada kehampaan. namun memahami kehampaan bukanlah perihal gampang, hal ini dikarenakan kehampaan harus diterima dengan berbagai upaya penangkalan akan berbagai keterikatan yang menjadi kebenaran sementara yang dipahami oleh tiap manusia. 

    proses menyangkal kebenaran hingga keterikatan yang dimiliki ini kembali lagi pada dilakukannya proses meditasi, namun ada pola pendisiplinan tertentu yang harus dilakukan dalam melakukan meditasi ini. dalam melakukan proses meditasi hal yang harus dilakukan bukan hanya duduk diam dan memusatkan pikiran, namun lebih jauh lagi proses meditasi juga harus dilakukan untuk meniadakan setiap pemikiran yang muncul. dari praktek ini hal yang menjadi fokus utama adalajh merasakan dan memahami kondisi yang tidak memikirkan apapun. secara mendalam, keberadaan proses meditasi tidak hanya berusaha meniadakan kondisi pemikiran, namun juga menanggapi kondisi fisik yang terjadi dan berusaha meniadakan kondisi-kondisi yang dialami tersebut. kondisi ini tidak hanya menuntut pelatihan namun juga sebuah dedikasi tinggi ddalam melakukannya. dalam cerita legenda Dharma Taishi, meditasi yang beliau lakukan bertahan selama 9 tahun tanpa henti dengan disiplin puasa yang juga tidak terputus. 

    lebih jauh mengenai praktek Zen Buddhism, proses pelatihan tubuh dan pikiran tidak hanya berakhir dalam praktek meditasi. dalam prakteknya selain medittasi keberadaan pendisiplinan pada Dharma juga dilakukan melalui metode Koan. metode ini sekilas seperti melakukan permainan kata-kata melalui cerita atau perumpamaan namun berfungsi sebagai upaya membawa pemikiran masuk pada pemahaman akan Dharma secara simbolis. secara keseluruhan, upaya praktek zen buddhism ini berusaha mendisiplinkan tubuh dan pemikiran secara intenif dan menuntut adanya upaya yang penuh dedikasi dalam praktek mendisiplinkan diri. 


Zen Buddhism-Kongo Zen

    secara khusus jika Zen Buddhism berpusat pada upaya secara individualis dalam melakukan upaya mencapai pencerahan, maka Kongo Zen mengembangkan hal ini pada aspek yang lebih luas sebelum akhirnya masuk pada aspek individu. dalam pemahamannya mengenai hidup keberadaan realita sosial tidak dilupakan dalam Kongo Zen dan aspek ini pada akhirnnya akan berpengaruhh dalam upaya mencapai disiplin dalam praktek Zen Buddhism. secara khusus penjelasan mengenai Kongo Zen dari Doshin-So dijelaskan sebagai ajaran yang berpusat pada keberadaan manusia beserta kenyataan hidupnya. kenyataan hidup disini adalah keberadaan peran sosial serta keberadaan peran individu dalam lingkup sosial. sepintas hal ini memang menyinggung keberadaan hirarki sosial sebagai tempat peran sosial bisa dijalankan, namun yang lebih disinggung disini adalah keberadaan masing-masing peran individu adalah sebuah kenyataan yang dibawa oleh masing-masing individu dan bersinggungan dalam sebuah kenyataan besar. 

    secara tidak disadari kenyataan besar yang membuat berbagai kenyataan masing-masing individu bertemu dan bersinggungan ini membuat adanya sebuah ruang  dimana kenyataan dari masing-masing orang ini seperti saling mempengaruhi dan membuka kemungkinan dimana  kenyataan tiap individu mulai bergerak secara dinamis. secara tidak langsung ada sebuah kondisi yang ingin dituju dimana kenyataan tidak dilihat sebagai sebuah kenyataan  subyektif namun sebagai sebuah kondisi dimana semuanya seakan tidak bergerak dan tidak saling mempengaruhi. kondisi ini dalam pemahaman Buddhism secara umum disebut sebagai kondisi sunyata, dimana kondisi ini adalah yang tertinggi dalam pemahaman tentang kenyataan yang sebenarnya dimana kenyataan yang sebenarnya tidak benar-benar terjadi. 

    disini permasalahannya adalah bagaimana mungkin hal ini dipahami jika keberadaan realita sendiri dipahami secara kontinu dengan pemahaman masing-masing dan bertemu dalam ruang realita yang dihidupi dalam keseharian?. dari pertanyaan ini maka Kongo--Zen perlu dipahami secara menyeluruh dengan melibatkan tubuh dan pikiran didalam suatu upaya  yang dinamis. oleh karena hal inilah maka upaya yang dilakukan adalah dengan menjadikan praktek beladiri sebagai upaya mendalami kondisi sunyata melalui aktivitas yang dinamis, dimana masing-masing kenyataan dari tiap individu bertemu dalam ekspresi yang direalisasikan melalui latihan beladiri.


konsep "Gyo" dalam Shorinji Kempo : bukti pelatihan beladiri tidak sekedar urusan maskulinitas

    dalam pelatihan beladiri atau pelatihan olahraga apapun, istilah disiplin mengacu pada repetisi latihan serta penanaman kesadara baik secara konsep ataupun secara praktek. dalam penjelasan secara kultural keberadaan disiplin adalah sebuah nilai yang secara tidak disadari menjadi acuan dasar dalam suatu praksis tertentu. sebagai contoh adalah budaya mengenakan seragam, budaya untuk menepati dan memperlakukan waktu. budaya untuk bersikap terhadap etika makan, ibadah dan lainnya. secara umum istilah disiplin dilakukan sebagai sebuah upaya penanaman nilai dan kesadaran dalam bentuk praksis yang dilakukan berulang. hal ini ketika sudah diterima dan ditanamkan pada suatu tataran masyarakat akan menjadi sebuah pembatas serta pemikiran kolektif yang membentuk identitas dalam tataran masyarakat yang bersangkutan. 

    jika keberadaan disiplin sebagai sebuah upaya penanaman nilai yang dilakukan melalui repetisi, maka bagaimana dengan Shorinji Kempo yang merupakan sebuah beladiri yang mana proses pelatihannya melibatkan keberadaan kedisplinan secara wajib?. pastinya keberadaan kedisiplinan didalam Shorinji kempo tidak bisa dilakukan hanya sebatas pada penanaman kemampuan fisik untuk aspek beladiri saja. hal yang perlu diperhatikan dalam memaknai konsep Gyo yang ada didalam Shorinji Kempo kembali lagi pada pemikiran Kongo-Zen, terutama pada nilai peran hubungan sosial dan pemaknaan pada realita yang dialami oleh masing-masing individu. 

    secara khusus inti dari kedisplinan dalam Shorinji Kempo adalah kedisplinan dalam berpikir secara kritis mengenai pemaknaan latihan beladiri serta pemikiran mengenai ide Kongo-Zen dalam praktek berlatihnya. secara tidak langsung keberadaan ide inilah yang oleh So-Doshin dijelaskan melalui penjelasan makna dari karakter tulisan Gyo yang dijelaskan sebagai karakter tulisan yang menjelaskan tentang pihak yang kuat menggendong pihak yang lemah dan saling berhadap-hadapan. jika mengacu pada penjelasan secara linguistik, istilah Gyo yang dimaksud oleh So Doshin ini dapat juga dibaca dengan makna sebagai "memutuskan", sehingga jika dipahami lebih mendalam mengenai makna Gyo disini tidak hanya sekedar meyakini dan memutuskan untuk bertindak. namun lebih jauh Gyo berarti juga menerima tanggung jawab dan menghadapi persoalan, hal ini sepintas sangat sesuai dengan ide dasar Kongo-Zen yang meyakini keberadaan realita dari tiap individu yang tidak bisa sepenuhnya diterjemahkan dan menerimanya pasti menimbulkan permasalahan tersendiri. 

    dari sini setidaknya dapat dilihat jika keberadaan beladiri Shorinji Kempo bukanlah sebuah upaya menjadikan seseorang menjadi sangat maskulin yang jago berkelahi atau penuh dengan nilai agresif. namun sebaliknya upaya beladiri Shorinji Kempo adalah sebuah upaya menanamkan nilai-nilai yang berkebalikan dari makna umum yang dipahami mengenai ide beladiri. dari sini arti definitif dari kedisplinan dalam Shorinji Kempo juga bukan sebuah nilai yang bersifat militeristik yang banyak mengesampingkan nilai-nilai humanism, sebaliknya upaya berdisiplin adalah sebuah upaya yang cukup reflektif dalam pelaksanaannya dan harus dilakukan secara berulang agar nilai-nilai Kongo-Zen dapat dipahami secara leluasa. 



 

Komentar