namun dalam kecamuk yang sangat menekan keberadaan nilai kemanusiaan tersebut, berbagai pihak yang selamat berusaha dengan tabah membuat upaya pembacaan kembali pemaknaan mengenai nilai hidup guna memperbaiki nilai-nilai kemanusiaan yang sudah hancur didalam kecamuk tersebut.
Viktor Frankl sang penyintas genosida
nama Viktor Frankl adalah seorang psikiater
terkemuka di era 60-80an oleh karena ide yang dia berikan dalam praktek psikologi terapi bagi kondisi masyarakat yang mengalami neurosis akan pencarian makna hidup. konsep yang disebut logoterapi ini merupakan ide reflektif yang ia dapat setelah mengalami pengalaman pahit dalam kasus camp konsentrasi Auschwich yang mengorbankan lebih dari 1000 orang Yahudi pada masa penguasaan Nazi di Jerman.
secara tidak langsung, nasib sebagai penyintas kasus genosida adalah nasib yang membawa perubahan baginya namun hal tersebut juga dapat dijelaskan sebagai nasib yang sangat mengerikan bagi kebannyakan orang. oleh karena masalah identitas yang ia miliki sebagai seorang Yahudi German ia terseret sebagai bagian dalam kamp konsentrasi. kehilangan istri hingga kebebasannya ia tetap berusaha tabah dan tetap melakukan upaya refleksi pada pengalamannya dengan cara menulis. namun sangat disayangkan catatan yang ia miliki beberapa kali hilang atau juga disita. namun pada akhirnya upaya tersebt juga yang membuat dirinya mampu bertahan dalam kekangan penjara Auswitch.
ketika perang dunia II berakhir, profesi psikolog yang sudah ia dalami memberikan jalan baru bagi dirinya untuk kembali berkarya. melalui ide logoterapi yang ia rumuskan ia mencoba menjelaskan kembali bagaimana manusia menghadapi ketidakpastian yang dialami serta bagaimana relasi sebuah kondisi yang bersifat represif dipahami sebagai bagian dalam melakukan proses logoterapi ini. dalam pemikirannya mengenai logoterapi Frankl menjelaskan jika keberadaan tragedi juga represi bukanlah sebagai penghambat, namun sebagai bagian dari munculnya upaya reflektif bagi memaknai kondisi hidup. secara singkat keberadaan upaya reflektif ini dimunculkan melalui sebuah pertanyaan sederhana "apa yang sesungguhnya anda inginkan?". secara tidak disadari, pertanyaan ini menjadi langkah awal bagi tiap individu yang menggunakan metode logoterapi untuk masuk lebih dalam kepada kesadarannya dan keinginannya untuk mengerti lebih dalam identitas serta harapan yang diinginkan.
secara khusus yang menjadi permasalahan didalam logoterapi adalah adalah Frustasi eksistensialisme, hal ini dapat diartikan sebagai keberadaan diri yang tidak dipahami secara utuh oleh individunya. dalam arti yang lebih luas istilah ini mengacu pada kondisi dimana seorang individu terlalu memaksa menjadi atau membuat dirinya menjadi seperti orang lain, sehingga dari hal ini seseorang menjadi kehilangan perannya atau keinginannya. akibat dari kondisi ini adalah adanya rasa kehilangan yang berlarut-larut mengenai diri seseorang hingga menjadi tidak bahagia oleh keputusan hidup yang dijalani.
kondisi kehilangan makna oleh karena tidak mampu merasakan kebahagiaan hingga kehilangan jati diri akibat frustasi eksistensialisme adalah kondisi yang cukup normal terjadi di era modern. jika merefleksi pada sejarah hidup yang dialami Frankl, dapat dipahami jika paksaan masuk ke dalam kamp konsentrasi dan menjadi pekerja paksa adalah sebuah kondisi kehilangan jatidiri yang sangat terasa secara fisik dan kejiwaan. kondisi ini membuat Frankl beserta berbagai tawanan lainnya merasakan kehilangan identitasnya guna menyelamatkan nyawanya selama didalam kamp. dibandingkan dengan kondisi yang terjadi setelah Perang dunia II, keberadaan kondisi ekonomi industri dengan tuntutannya menyerap pegawai dalam jumlah besar dengan keuntungan yang stabil membuat peran masyarakat menjadi menyempit dan terbagi-bagi dalam kebutuhan yang dituntut untuk selalu ada.
dari hal ini dapat dijelaskan jika era modern dan industri sejatinya membuat keberadaan manusia menjadi kondisi yang memenjarakan kejiwaannya untuk masuk pada kondisi yang diinginkan oleh konteks hidupnya. kondisi ini memaksa seseorang untuk kehilangan peran serta keinginannya untuk bisa menjadi manusia yang hidup secara utuh. dengan kata lain kondisi jaman modern dan inndstrialisasi yang sedang terjadi memunculkan keterasingan bagi seseorang untuk dapaat mengenali keberadaan identitasnya. hal ini diperkuat dengan kondisi modernitas yang memaksa setiap individu untuk harus tenggelam dalam pola konsumerisme yang harus dilakukan tanpa henti. dalam penjelasannya Frankl mendefinisikan keadaan ini sebagai Kehampaan Eksistensialisme
dalam penjelasannya mengenai kehampaan eksistensialisme, Frankl menjelaskan jika hal ini adalah sebuah kondisi yang lazim terjadi di abad 21. namun meski demikian kelaziman ini membuat uaya untuk mencari makna pada tiap manusia menjadi unik dan harus dilakukan dengan upaya yang berbeda. dari rumusan ide ini Frankl menjelaskan jika dalam proses pencarian makna hidup, seseorang harus berani dengan kritis melihat dinamika hidunya atau yang disebut sebagai Noodinamika. secara lebih spesifik yang disebut sebagai Noodinamika ini bukan hanya sebuah cerita perjalanan hidup namun juga sebagai sebuah hidup yang didalamnya terdapat dua kutub yang saling mempengaruhi kehidupan. dengan kata lain Noodinamika tidak hanya tentang refleksi mengenai nasib namun juga proses pemaknaan pada nilai baik-buruknya setiap hal yang terjadi didalam hidup. penjelasan ini dijelaskan oleh Frankl jika kehidupan ini sendiri tidak akan menemui maknanya jika kondisinya selalu sama atau berjalan dalam keadaan homeostasis namun harus ada didalam perubahan itu sendiri.
secara keseluruhan, ide mengenai logotheraphy Frankl berkutat pada upaya pemaknaan seseorang mengenai masa depan seperti apa yang diinginkan serta bagaimana mengupayakannya dengan berbagai kondisi yang sudah terjadi didalam hidupnya. dalam hal ini, berbagai hambatan ataupun juga tekanan menjadi salah satu bagian dalam proses pembacan makna hidup yang harus dilakukan. oleh karena hal ini Frankl menyarankan agar para praktisi Logotheraphy mampu dengan kritis membaca konteks hidup dari klien serta berupaya secara negosiatof mendalami kasus yang dialmi oleh klien. hal ini dikarenakan keunikan dari masing-masing jalan hidup manusia membuat pendekatan dan proses pembacaan dalam prkaktek logotheraphy menjadi berbeda.
Kongo- Zen dan ketidakpastian makna hidup.
dalam pemikiran yang dirumuskan oleh So Doshin mengenai Kongo-Zen, latar belakang yang membentuk konteks ide ini kurang lebih masih sama dengan apa yang dialami olehh Frankl. namun perbedaan yang dialami adalah kondisidari masing-masing pihak berada pada ruang kontekstual yang berbeda. dalam hal ini So-Doshin menjalani hidup sebagai partisan politik dan juga militer, sedangkan Frankl berada pada arus politik Jerman yang dikuasai oleh Nazi. dalam kondisi ini So Doshin mendapatkan pencerahan melalui komunitas-komunitas yang melakukan perlawanan terhadap kekuasaan China. salah satu yang menjadi basis dari kegiatan militer yang dilakukan So-Doshin adalah mengumpulkan informasi dari komunitas Shaolin serta sekte-sekte tertentu yang terlibat didalamnya.
dalam kegiatan pengumpulan informasinya ini, So-Doshin muda mendapat pengajaran mengenai kemanusiaan melalui komunitas Zen-Buddhism. dalam getirnya pengalaman yang ia hadapi, pemikiran mengenai kemanusiaan diperdalam dengan dikembangkannya metode pelatihan beladiri yang ia terima. secara umum pandangan mengenai Zen-Buddhism berpusat pada tujuan akhir hidup yang menghampa. ide menjadi hampa ini didasari oleh pemikiran Zen-Buddhism yang menganggap keberadaan hidup manusia pada akhirnya berakhir pada kondisi hampa. keadaan hampa dalam hal ini tidak bisa diartikan sebagai kondisi yang sepenuhnya tidak berguna sejak awal, justru sebaliknya kondisi yang dijelaskan sebagai hampa ini sendiri adalah kesadaran mutlak jika apa yang sudah dicapai dan dihhasilkan dalam hidup adalah bagian dari Dukkha dan tidak bisa dibawa hingga kondisi akhir hidup. oleh dasar pemikiran inilah maka konsep ini harus dimaknai dalam kehidupan sebagai upaya hidup yang semestinya dilakukan, hidup harus dilakukan dengan kesadaran jika pada akhirnya semua berakhir dengan tidak mengikat secara mutlak namun berakhir sama seperti kondisi baru lahir yaitu tidak membawa apapun dan terbeban apapun. dari ide inilah maka deskripsi hampa dapat dimengerti.
secara khusus ide dari Zen-Buddhism ini tidak seutuhnya diterapkan oleh So-Doshin didalam pengembangan keilmuannya, salah satu aspek yang dipahami oleh So-Doshin adalah keberadaan realita manusia pada dasarnya adalah sebuah kondisi yang tidak bisa dipahami hanya sebatas pemahaman masing-masing orang. hal ini secara tidak langsung menjadi kritik baru bagi Zen-Buddhism oleh So-Doshin yang dikembangkan lebih jauh dengan merumuskan jika kebutuhan akan pengetahuan dan memperbarui pengetahuan adalah sebuah kewajiban bagi tiap manusia untuk memahami keberadaan realita yang selalu berubah. lebih jauh pemahaman ini dikembangkan dengan cara melibatkan tubuh sebagai upaya menerima kondisi yang dihasilkan oleh realita ini sendiri. dalam hal ini keberadaan tubuh adalah sesuatu yang menjadi media diterimanya realita hingga menjadi pemahaman yang utuh yang dipahami sebagai sebuah subyektivitas. sebagai contoh dari hal ini dapat dilihat bagaimana ketika seseorang mengalami kondisi terkjut hingga menjadi senang ataupun sedih atau juga marah, semuanya diawali dengan menerima informasi lalu direaksikan oleh tubuh melalui gestur dan disimpulkan kembali menjadi ekspresi yang berbentuk gestur kembali. lebih jauh hal ini dapat dikembangkan dengan menggunakan pertanyaan yang dirumuskan oleh So-Doshin pada hubungan antara manusia dengan realita yang dihidupi yaitu Bagaimana hubungan manusia dengan keberadaan materi?, bagaimana pula hubungan manusia dengan manusia lainnya?, bagaimana hubungan manusia menjawab relasi hidup &mati?
dari ide yang dikembangkan oleh So-Doshin ini dapat dilihat jika ide Kongo-Zen memberi tempat bagi kondisi absurd yang ditimbulkan oleh realita kehidupan, kondisi ini diterima sebagai sebuah ruang dimana hidup masing-masing manusia saling berkembang dan saling bersinggungan. mungkin jika diperdalam apa yang disebut hidup bagi sudut pandang Kongo-Zen adalah sebuah jalan tanpa ujung yang entah bagaimana disetiap waktunya akan mengalami perubahan. dari hal ini dapat dipahami jika tuntutan untuk menjadi berpengetahuan atau memiliki pengetahuan adalah sebuah kewajiban oleh karena ketidak-pastian hanya bisa dibaca dengan pengetahuan untuk melihat kemungkinan yang akan terjadi.
Shorinji Kempo - upaya membentuk penerima realitas
dalam praksis dari upaya yang dilakukan oleh So-Doshin, keberadaan ide Kongo Zen menjadi sepenuhnya dapat diuji dan dirasakan melalui sebuah kegiatan yang saling mempertemukan kondisi realitas individu dalam upaya pembentukan fisik yang dilakukan dengan praktek latihan beladiri. upaya pelatihan beladiri ini sendiri tidak hanya sebagai upaya pembentukan tubuh namun juga sebagai upaya mengembangkan kemampuan reflektif dari masing-masing pelaku untuk mengembangkan diri sendiri serta teman berlatih. hal ini dilakukan juga sebagai bagian dari tradisi Kungfu Shaolin yang dipelajari So-Doshin selama berada di daerah China. dalam praktek beladiri Shaolin, seorang praktisi tidak boleh hanya menguasai teknik beladiri namun juga harus mampu mengontrol kemampuan fisik serta emosi yang muncul dalam momen latihan.
scara tidak langsung keberadaan momen berlatih adalah sebuah ruang dinamis yang simbolik dimana ide untuk menjadi dominan dimunculkan namun juga direpresi secara bersamaan ,juga pemahaman mengenai bagaimana menyerang-bertahan-menjatuhkan menjadi sebuah kondisi yang tidak selamanya dipahami sebagaimana orang awam paham. dengan kata lain keberadaan pelatihan Shorinji Kempo sangat menuntut kesadaran secara kritis dari praktisinya untuk melihat kembali bagaimana realitas dari kondisi diluar pelatihan dengan kondisi latihan dilakukan. dari hal ini maka dapat dijelaskan jika latihan Shorinji kempo adalah sebuah ruang diskusi simbolik yang berlangsung seara mendalam ketika pelatihan fisik dilakukan. hal lain yang juga tidak kalah penting dari momen berlatih ini adalah bagaimana pemikiran Kongo-Zen mampu dipahami secara dinamis didalam suasana berlatih yang tidak tampak seperti ruang kelas yang mengajarkan konsep.
Sebuah Diskusi pada ketidakpastian hidup : apakah manusia akan selamanya bergulat pada ketidakpastian?
namun secara praksis upaya yang dilakukan dalam hal ini memiliki perbedaan. pada Kongo-Zen keberadaan dinamika realita masing-masing individu dipertemukan didalam ruang sosial yang mempertemukan tiap individu untuk saling mengembangkan kemampuan fisiknya melalui latihan beladiri yang bersinergis. di sisi lain Logotheraphy menggunakan pendekatan reflektif -klinis -konseling bagi masing-masing penderita neurosis untuk melihat kembali sejauh apa kondisi hidupnya serta uaya apa yang seharusnya dilakukan.
pada akhirnya pendekatan dari masing-masing konsep ini memang menyetujui keberadaan ketidakastian sebagai bagian dari realita yang akan dihadapi oleh masing-masing individu. secara tidak disadari keberadaan realita memang tidak bisa dipisah dengan berbagai elemen pembentuknya terutama pada keberadaan manusia yang menjadi pengelola dan penerima keberadaan realita ini. namun permasalahan yang selalu timbul disini adalah keberadaan realita yang terjadi pada masing-masing individu akan saling bersinggungan dengan individu lain dan menyebabkan keberadaan subyektivitas menjadi kabur pada pemahaman akan realita ini sendiri. oleh karena hal inilah maka seharusnya menyikapi kehidupan secara kongkret dan juga kritis menjadi sebuah upaya yang harus terbiasa dilakukan.
sebagai contoh dalam upaya Logotheraphy yang dilakukan oleh Frankl, dimana berbagai persoalan harus ia hadapi untuk terus bertahan hidup dalam tekanan dan ancaman, ia tetap memilih melawan kondisi ketakutannya dengan terus percaya bahwa hidup harus dijalani sepenuhmya dengan tetap mengedepankan upaya untuk berkarya dan membantu dalam hal ide. begitu pula dengan So-Doshin ketika kembali ke Jepang pada saat upaya repatriasi dilakukan setelah Perang Dunia-II usai. ketika kondisi yang mengecewakan yang dilihat So-Doshin terus terjadi, beliau memilih untuk membantu mengembangkan generasi yang lebih muda untuk bisa berkembang dengan pelatihan beladiri, meski ketika hal ini terjadi kondisi jepang saat itu masih tidak stabil secara keamanan dan ekonomi mengingat kondisi pasca perang yang ditimbulkan membawa tekanan moral bagi seluruh lapisan masyarakat.
dari sini setidaknya kita juga dapat menyimpulkan jika keberadaan ketidapastian dalam hidup adalahkondisi yang seharusnya dihadapi dengan upaya yang kritis. pemaknaan kritis disini tidak selalu harus berada pada pemahaman sebagai upaya yang melawan takdir atau kondisi tertentu yang sedang menjadi masalah. pemaknaan kritis disini dapat diartikan menjadi sebuah upaya yang nyata dan benar-benar melibatkan pengetahuan dan emahaman dari individu. sehingga dari sini dapat dijelaskan jika menghadapi ketidak pastian hidup tidak hanya menggunakan akal namun juga tubuh beserta pengetahuan yang mendalam akan konteks kehidupan. dengan kata lain upaya yang harus dilakukan adalah memilih dengan tegas upaya yang seharusnya dilakukan serta bertindak secara konsisten dalam praxis hidup.

Komentar