Menjelang keberadaan tahun 2020, kita dikagetkan dengan sebuah isu pandemi yang muncul dengan sangat cepat dan menyebar hingga tingkat lokal. keberadaan kondisi ini membuat ketakutan serta berbagai kecemasan masyarakat di berbagai belahan dunia menjadi seperti kumpulan orang yang tidak berpikir dengan waras. bayangkan saja dalam beberapa minggu tisu-toilet di Amerika hilang dari rak supermarket dengan alasan dibeli dengan tujuan hygine. sedangkan pada minggu-minggu berikutnya ketika isu pandemi ini semakin meningkat penggunaan obat cacing sebagai obat anti-virus dilakukan dengan dalih menyembuhkan. dalam beberapa pekan juga keberadaan kementrian kesehatan Indonesia juga seperti membuat gaduh dengan adanya kartu sakti yang berisi minyak cajuput dan beberapa rempah yang dipercaya sebagai obat.
gambaran kondisi ini adalah sebuah kondisi yang terjadi dengan sangat cepat namun terus menghantui keberadaan kehidupan masyarakat kita hingga entah kapan akan benar-benar sirna dan hanya tinggal cerita. singkatnya akibat dari pandemi ini semua manusia masuk ke dalam sebuah ketakutan dan kekhawatiran yang mengagetkan, atau lebih jelasnya masuk dalam kesadaran yang seperti ruang antah-berantah. ketika kondisi masuk kedalam ruang antah berantah ini terjadi secara kolektif maka muncullah histeria masa. semua menjadi bingung dan semuanya pula menjadi absurd
Absurditas dalam ide KOngo Zen.
jika membahas kembali deskripsi kongo-zen mengenai realita, kita akan mendapati jika keberadaan realita bagi ide kongo-zen adalah sebuah kondisi yang tidak akan berhenti dan akan terus berlanjut dalam hidup seseorang. oleh karena kenyataan adalah suatu hal yang terus terjadi maka untuk menghadapinya adalah dengann membentuk pengetahuan. dalam hal ini secara tidak langsung keberadaan kongo zen mengakui sebuah ruanng antara siklus realita serta kemampuan manusia dalam menghadapi keberadaan realita sebagai sebuah momen saling bernegosiasi guna mendapat sebuah kesimpulan yang menjadi pengetahuan.
dalam ruang negosiasi ini manusia pada awalnya dihadapkan pada ketidaktahuan serta kondisi yang mungkin bertolak belakang dengan harapan dari keinginan pribadi. hilangnnya harapan serta putus asa adalah sebuah momen dimana manusia masuk ke dalam ruang absurditas, dimana pada saat berada didalam kondisi ini tubuh manusia menjawab dengan reaksi fisik yang membuat indra perasa semakin tajam dan otot menjadi kaku atau lemas disertai dengan aliran darah yang menjadi tidak normal. kondisi ini lebih sering dikenal dengan nausea atau mual.
keberadaan tubuh yang memberi pertanda secara fisik dan ruang negosiasi yang memperantarai tubuh dengan realita inilah yang pada akhirnya menunjukan keberadaan absurditas. menyesuaikan dengan ide mengenai kongo-zen maka absurditas adalah sebuah keniscayaan dan akan selalu terjadi dalam hubungan sosial individu. dengan kata lain absurditas bagi kongo-zen adalah sesuatu yang harus diterima dan dihadapi serta disikapi. dari ide ini maka benarlah pula jika ide melatih tubuh menjadi sebuah ide yang diharuskan bagi praktek penguasaan KOngo-zen. hal ini dikarenakan tubuh yang menerima dan menghadapi kenyataan akan mengalami kondisi mual yang secara simbolik bisa bermacam-macam bentuknya namun secara fisik ekspresi mual ini akan terlihat dari gangguan fisik yang dialami.
ketika pandemi menerjang
ketika kondisi pandemi memasuki wilayah kesadaran masyarakat, kita dihadapkan derngan pemahaman yang terasing dan juga membingungkan. terasing oleh karena pandemi adalah sebuah ancaman yang datang tiba-tiba dan mencekam rasa aman, membingungkan oleh karena banyaknya tanggapan dari mmasyarakat lain yang menanggapi keberadaan pandemi sebagai hal yang tidak ada. pada akhirnya simpang siur keberadaan pandemi dalam masyarakat ini memaksa semua pihak untuk menjadi taat dan disiplin dengan berbagai pembaruan yang ditujukan untuk menjaga keamanan dari virus.
kebingungan serta kegagapan dalam menghadapi pandemi ini secara tidak disadari membuat kesadaran akan tubuh menjadi bias, disatu sisi bagi mereka yang mampu secara ekonomi memeriksa kondisi tubuh dengan berbagai indikator menjadi barang mewah, bagi kelompok menengah kebawah, bantuan dari pemerintah merupakan jalan satu-satunya mengatasi keberadaan pandemi, bahkan lebih ekstrim lagi ketidak pedulian pada aturan agar tetap bekerja demi pemenuhan kebutuhan adalah resiko yang harus diambil. selain kesadaran yang bias berubahnya nilai guna secara mendadak memunculkan kesadaran antagonis yang baru didalam masyarakat. secara umum keberadaan yang mendadak ini membuat segala sesuatunya menjadi sebuah lingkup yang absurd.
absurditas yang terjadi ini seolahh menjadikan keberadaan tokoh-tokoh dalam novel La-pes Camus menjadi nyata. pihak negarawan yang bingung menentukan keadilan dalam kebijakan sangat terlihat seperti hakim yang bimbang, para pemuka agama yang biasa mengumbar ayat suci seakan diuji untuk menenangkan umatnya dengan ayat-ayat dan doa. keberadaan absurditas ini menjadikan tubuh dan pikiran menjadi sebuah zona pertentangan baru bagi banyak pihak, dalam rentang waktu pertama pandemi keberadaan tubuh yang terbiasa bekerja dipaksa bekerja dengan intensitas yang lebih rendah dengan dalih menjaga imunitas.
ironi keberadaan tubuh yang harus diolahragakan seakan menjadi sebuah ide yang cukup kompleks dan juga kontras oleh karena keberadaan tubuh dapat terpapar virus dalam keadaan tidak terduga, namun keberadaan tubuh yang lemah juga menjadi sebuah keberadaan fisik yang ditakuti oleh karena virus tak terlihat dapat kapan saja masuk kedalam tubuh. lebih jauh lagi tubuh semakin dibingungkan dengan berbagai keadaan yang muncul sebagai sebuah reaksi akan kuman atau racun yang sedang dinetralkan. sebagai contoh dari hal ini adalah ketakutan jika terjadi mual-mual atau tiba-tiba terkena flu ringan. semua hal lumrah ini menjadi sebuah pertanda buruk jika dengan kondisi demikian maka ada hantu tanggungan biaya dan kebijakan yang menanti jika benar ada virus yang bersemayam.
dari munculnya ketakutan hingga kebingungan yang ada ini dapat dilihat jika keberadaan tubuh yang terancam adalah sebuah kondisi yang tidak diinginkan namun juga sellu diabaikan. dalam pemikiran KOngo-Zen keberadaan tubuh adalah media untuk memahami kenyataan serta media untuk membentuk pengetahuan agar realita dapat diterima. namun dengan terancamnya keberadaan tubuh maka keberadaan tubuh untuk dapat menerima kenyataan dan membentuk pengetahuan menjadi sebuah wdah yang dipaksa menjadi tidak normal. secara tidak langsung kondisi ini menuntut keberadaan tubuh untuk lebih siap namun dengan dinamika realita yang terlampau cepat keberadaan tubuh menjadi dipaksa untuk bertindak diluar batas.
.jpeg)
Komentar