Kongo zen dan ide mnegenai ubermensch dari Nietzche mungkin adalah beberapa ide yang membahas mengenai keberadaan manusia di era modern, dengan adanya kesamaan serta perbedaan, ide mengenai sosok ideal manusia cukup menarik untuk diamati dua sudut pandang yang berseberangan ini.
Di dalam sosok manusia Ubermensch
bagi Nietzche keberadaan Ubermansch adalah sosok yang sudah terbebas dari belenggu idealis serta menyadari bagaimana realita yang dihidupi dan harus berbuat apa dengan pemahamannya tersebut, dalam Zarathustra sosok Ubermansch ini digambarkan sebagai roh yang bertransformasi dari unta-singa-bayi manusia. ketika menjadi unta roh ini menyadari kemampuannya yang mampu membawa beban berat dan selalu ingin membawa beban lebih untuk dia berjalan melintasi gurun, gurun ini tidak lain adalah dirinya dan realita yang dia hidupi. setelah berhasil membawa beban tidak terkira dan melewati hamparan gurun sang roh berubah menjadi sosok singa. jika unta menginginkan beban lebih untuk dibawa maka sosok singa ingin mengalahkan naga dan menjadikan dirinya berkuasa atas kekuatan yang ditakuti. selepas singa berhasil mengalahkan naga sang singa berubah kembali menjadi sosok terakhir yaitu bayi manusia.
apa makna dari gambaran yang ditangkap ini?. sebelum menjadi sosok bayi manusia keberadaan roh ketika menjadi unta dan singa adalah penggambaran manusia yang mempercayai dan menghidupi idealismenya yang menjadi realita hidupnya. sosok unta adalah kepribadian manusia yang menerima bebannya dan terus menjadikan bebannya sebagai bagian dari kewajiban hidupnya, ketika menjadi singa keinginanannya adalah menjadi berkuasa dan dipandang sebagai sosok yang memiliki kuasa. sedangkan pada saat menjadi bayi segala sesuatunya menjadi luluh tidak ada lagi keinginan untuk berkuasa juga tidak lagi berkeinginan untuk menanggung beban. hal ini dikarenakan keberadaan bayi adalah lugu dan tidak memikirkan apapun serta bertindak sesuai dengan apa yang sedang diinginkan dan dirasakan.
penggambaran dari Nietzche ini dapat lebih jelas dilihat dari beberapa konteks terkenal yang dirumuskan seperti pernyataannya "God is death". secara tersirat keberadaan makna dari hal ini bukanlah keberadaan Tuhan sepenuhnya mati namun pemahaman ini berdasar pada kritik Nietzche mengenai manusia yang terlalu sering mengikuti konteks hidup yang berlaku. dalam pemahamannya mengenai hidup, Nietzche menilai keberadaan hidup secara pesimis dan kritis. bagi Nietzche keberadaan manusia dengan berbagai idenya hanyalah sebuah penilaian mengenai hal yang sementara dan nilai-nilai yang terjadi sesungguhnya tidak mewakili hal yang sesungguhnya. secara tidak langsung keberadaan ide ini memberikan penilaian jika nantinya keberadaan Tuhan yang selalu dipikirkan tidak lain hanyalah nilai yang nantinya berakhir pada ketiadaan. penilaian pesimis ini secara tidak langsung juga menjelaskan bagaimana manusia menanggapi dirinya.
ubermansch jika dilihat dari penjelasannya yang terbebas dan tersadar seperti menunjukan ide pesimism menjelma ke sosok manusia ideal seperti versinya. hal ini dikarenakan keberadaan ubermansch adalah sosok yang mampu tidak bergantung pada nilai yang berlaku juga karena ubermansch sudah cukup pesimis dengan realita dan nilai serta menyadari realita yang dia hidupi dapat dilakukan sesuai dengan apa yang diinginkan. secara tidak langsung keberadaan ubermensch adalah orang yang sudah mampu menerima cara menjadi pesimis dengan sangat baik hingga mampu menyadari realitanya dari pemikiran tersebut. secara tidak langsung keberadaan pesimism bagi Nietzche adalah sebuah upaya dimana menilai pesmis suatu hal berarti memberikan nilai yang lebih bagi sesuatu yang dinilai pesimis tersebut.
disebut jiko-Kakuritsu , jita-kyoraku, sosok ideal Kongo-Zen
jika Nietzche berangkat dari tanggapan pesimis mengenai kehidupan, maka cukup berbeda dengan Kongo-Zen. berangkat dari kepercayaan mengenai hakikat manusia yang sudah terlahir baik, ide ini mencoba menyempurnakan penerapannya dengan pelatihan tubuh melalui beladiri Shorinji Kempo sebagai upaya mencapai realitas yang diinginkan. secara khusus keberadaan Kongo-Zen dan praktek Shorinji Kempo tidak akan bisa dipisahkan oleh karena nilai-nilai Kongo Zen dapat dipelajari dan dilihat dari praktek pelatihan Shorinji kempo.
dalam pandangannya sebagai sebuah ide filosofis, kongo zen mempercayai jika masing-masing individdu memiliki perannya sendiri-sendiri. keberadaan peran yang dimiliki harus bisa dijalankan dengan memiliki tubuh yang utuh dimana pikiran dan fisik harus saling bersinergi. dalam hal pemikiran Kongo-Zen mempercayai jika keberadaan manusia adalah saling terkait dan saling mempengaruhi dimensi realita yang dihidupi. keberadaan realita ini tidak selamanya baik, namun realita ini harus selalu bisa untuk dihadapi dan diselesaikan.
secara tidak langsung keberadaan KOngo-Zen tidak berpihak sepenuhnya pada cara pandang pesimis. oleh karena KOngo-Zen juga masih mempercayai jika keberadaan buruk masih bisa terjadi. namun dalam hal ini Kongo-Zen lebih melihat bagaimana relasi manusia dalam menanggapi tiap hal yang dihadapi akan selalu melibatkan Tubuh-pikiran-relasi sosial. dalam hal merumuskan sosok ideal, KOngo-Zen merumuskan karakter sosok ideal ini kedalam dua istilah yaitu Jiko-Kakuritsu & JIta-Kyoraku.
secara singkat Jiko-Kakuritsu berarti kemampuan dari seseorang untuk mampu percaya dan mengandalakan kemampuan diri sendiri, sedangkan Jita-Kyoraku adalah kemampuan untuk mampu mengorbankan kepentingan pribadi bagi orang lain. secara tidak langsung disinilah keberadaan nilai pesimis Kongo-Zen dimana pencapaian tertinggi dari seseorang bukanlah dari kesadaran mutlak jika nilai-nilai yang dihidupi adalah nihil atau hanya sebagai nilai yang tidak menjelaskan realita sehingga menemukan kemampuan mengendalikan segala sesuatu dengan keinginannya, namun sebaliknya Kongo-Zen melalui karakter idealis Jiko-Kakuritsu dan Jita-Kyoraku meletakkan nilai diri didalam realita yang dianggap kacau oleh kebanyakan pemikir pesimis.
dengan kata lain keberadaan diri dari konsep JIko-kakuritsu dan jita-kyoraku berada pada dinamika masyarakat dan didalam proses inilah peran serta pemahaman diri seseorang ditemukan. namun dengan sebuah perbedaan jika keberadaan realita ini pada akhirnya diserahkan pada aspek tubuh dimana tubuh menjadi reseptor awal dalam menghadapi dan menerima realita. meski dalam KOngo-Zen keberadaan realita diserahkan pada tubuh untuk mengawali pemahamannya bukan berarti keberadaan perdebatan ide ditiadakan. menyadari hal ini keberadaan pikiran harus didisiplinkan dengan melatih kepekaan terhadap nilai kemanusiaan yang berlaku. dari sini seharusnya sudah nampak jika Kongo-Zen masih memberi ruang akan keberadaan ide lain untuk bisa mencapai pemahaman mengenai ide kemanusiaan namun upaya tersebut diserahkan pada kerelaan masing-masing individu unntuk mampu memahami btasannya serta upaya penafsirannya mengenai nilai kemanusiaan yyang dibutuhkan.
pertanyaan bagi keduanya, apakah manusia dapat menjadi ideal?
secara umum keberadaan ide dengan realita mmasyarakat yang dihhadapi akan selalu berganti seiring dengan keadaan jaman. saat ini dengan berbagai kemudahhan juga berbagai perubahan yang sudah dihasilkan dari berbagai upaya yang dilakukan manusia, konsep-konsep dari pemikiran seperti Ubermensch dan Kongo-Zen akan selalu diuji penafsiran serta penerapannya. mungkin dalam beberapa dekade kedepan keberadaan ide ini satu demi satu akan menjadi sebuah sosok individu ataupun menjadi karakter yang menjadi ideologi dari suatu pihak.
secara tidak langsung keberadaan ubermensch saat ini mungkin dapat ditemui dari para kaum hippies di Amerika pada era 70an atau mungkin di indonesia dapat ditemui dari para paraktisi spiritual yang melakukan upaya pengembaraan. secara khusus para pengembara atau musafir ini memang menempatkan dirinya terbeban dengan ide-ide spiritual tertentu dalam prakteknya, namun seiring dengan berjalannya waktu beban tersebut menjadi sudah tidak disadari dan cenderung diterima tanpa merasakan tekanan. bahkkan yang lebih jauh berbagai beban simbolis yang dihadpi cenderung tidak dimaknai sebagai beban namun sebagai sebuah realita yang bisa ditanggapi sesuai keinginan. hal ini mungkin akan berbeda jika dilihat dari segi kaum pekerja yang terbeban dengan modal-modal ekonomi. mungkin contoh ubermensch dari bidang ini adalah para pemodal atau konglomerat yang tidak lagi peduli dengan simbol-simbol status ekonomi dan lebih perhatian pada keberadaan usahanya namun bukan dengan tujuan profit tapi lebih karena urusan familial atau relasi sosial. dengan kata lain para pelaku usaha ini hanya ingin usahanya berjalan agar upaya usaha yang dijalankan memberi penghidupan bagi banyakk pihak, soal untung-rugi mungkin sudah bukan masalah olehh karena hal tersebut selalu dan pasti menjadi bagian dalam upaya hidupnya.
lalu bagaimana dengan ide Kongo--Zen, apakah ide ini mungkin kita temui dalam keseharian dan praktek hidup yang lebih nyata?. pastinya ide ini jika ditarik pada keberadaan realita sosial akan dengan mudah ditemui di dalam keseharian masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kolektifitas serta masyarakat yang mengedepankan nilai kemanusiaan sebagai tujuan utama. sekilas gambaran ide KOngo-Zen memang tidak jauh berbbeda dengan pemikiran timur lama seperti Confucian atau juga Buddhism. namun yang perlu diperhatikan dalam memahami KOngo-Zen adalah bentuk kepribadian dari individu yang tanggap dan mampu membantu sesama dengan kesadaran bahwa keberadaan dirinya merupakan bagian dari masyarakat yang saling terkait. sehingga ketiadaan peran dari seorang individu adalah hal yang harus dihindari.
ide kongo-zen secara pengandaian dapat ditemui dalam berbagai konteks lingkup sosial dimana keberadaan individu yang mau berinisiatif dan mau menjadikan sesama sebagai pihak yang berperan penting adalah dambaan bagi tujuan utama dari ide kongo-zen. secara khusus tanpa hharus menyinggung keberadaan Shorinji Kempo sebagai identitas, individu yang mungkin sudah menerapkkan ide KOngo-Zen sudah bisa ditemui. namun kekurangannya sudah pasti pada aspek kebertubuhan orang-orang ini mengalami kekurangan atau memberikan reaksi yang melukai tubuhnya ketika berhadapan dengan realita. sebagai contoh akan hal ini dapat dilihat dari orang yang melampiaskan stress terhadap habit konsumtif dengan makan dalam porsi besar dengan alasan tertentu agar stress yang dialami tidak berdampak bagi orang lain. secara tidak langsung KOngo-Zen menempatkan pelatihan Shorinji Kempo sebagai cara untuk melampiaskan hal-hal ini dan menjadikan tubuh sebagai reseptor akan realita agar pikiran tetap menjadi tersadar akan keberadaan realita yang dihadapi.
sebagai sebuah kesimpulan
secara keseluruhan ide mengenai KOngo-Zen juga Ubermensch sama-sama membuat penjelasan mengenai sosok manusia ideal dengan pendekatan yang berbeda. di satu sisi keberadaan ubermensch memang menjadi suatu cita-cita bagi seorang nietsche yang ingin terlepas dari berbagai idealisme yang mengikat keberadaan seseorang, begitu pula dengan kongo-zen meski mengakui keberadaan realita dan berusaha menerimanya dengan upaya mendisiplinkan tubuh dan pikiran namun kenyataan untuk mencita-citakan sosok manusia idealis. dari sini memang nampak jika kongo-zen seperti hendak menerima keberadaan dinamika realita serta berbagai hal didalamnya. mungkin sepintas hal ini cukup kontras, namun jika diperhatikan lebih seksama tujuan mencapai pembebasan juga merupakan bagian dari sosok manusia idealis.
jika ubermensch terbebas akan berbagai idealisme melalui pendekatan yang pesimis akan kehidupan, maka KOngo-Zen agaknya bersifat cukup anarchy dimana keberadaan kekuasaan tertinggi serta berbagai kondisi yang menyusunnya diyakini sebagai sebuah bagiian realita. realita didalam kongo-zen tidak akan bisa ditangkap dan diterjemahkan namun akan selalu dipelajari dan dikelola oleh munculnya pengetahuan. secara tidak langsung keberadaan sosok ideal yang anarchy ini bukan berarti sosok ideal ini menentang segalanya namun sebaliknya sosok ini adalah sosok yang mampu menerima segalanya namun mengelolanya dengan bijak sehingga pihak lain dapat berkembang oleh karena tindakan yang dilakukan dan diputuskan oleh kepribadian ideal kongo-zen. keberadaan sifat anarchy ini secara tidak langsung juga menjelaskan bagaimana seorang individu yang sudah mengerti kongo-zen menerjemahkan kebebasan adalah aliran momen yang akan berubah setiap saat dan akan selalu menghasilkan pengetahuan baru dengan berbagai dinamika yang terjadi didalamnya.
.jpeg)
Komentar