Shorinji Kempo sebagai beladiri awal didunia?????

   






  lebih dari 60 tahun ini keberadaan beladiri sudah mengalami berbagai dinamika. sejak selesainya perang dunia ke-2 keberadaan identitas beladiri seakan menjelma kembali ke ide dasar menjadi olahraga hiburan. Namun ide mengenai beladiri saat ini juga mengalami pasang surut dalam konteks identitas. Tidak sedikit konteks historis dan identitas menjadi sebuah konflik pada suatu institusi beladiri. Dalam konflik ini biasanya yang paling banyak dituntut adalah soal keabsahan atau lineage. 


    Dalam beladiri Shorinji Kempo hal ini juga terjadi didalam dinamika pemahamannya. sebagai sebuah beladiri dari Jepang yang masuk ke Indonesia ada banyak sekali permasalahan yang dihadapi oleh praktisi Shorinji Kempo ini. salah satu yang akan saya bahas disini adalah mitos mengenai identitas Shorinji Kempo sebagai sebuah beladiri yang berakar secara struktural didalam benak praktisinya sebagai beladiri dari semua jenis beladiri, atau dengan kata lain adalah beladiri awal dari berbagai aliran lain. 

    

       pernyataan jika beladiri Shorinji Kempo sebagai sebuah beladiri pusat dari segala bentuk beladiri memang terdengar cukup mencengangkan dan juga cukup keren bagi praktisi Shorinji Kempo, namun dalam hal ini sebuah pernyataan tidak pernah berdiri secara tunggal dalam sebuah pembuktian. Sebenarnya mudah saja memeriksa apakah pernyataan ini benar atau tidak. Dalam cara pandang positivis sebuah fakta tidak terjadi oleh karena keberadaan fakta tersebut lahir tanpa konteks atau latar belakang tertentu. Begitu pula dengan pernyataan mengenai Shorinji Kempo sebagai beladiri awal dari semua beladiri lain. Sehingga dari sini setidaknya kita perlu konteks tertentu yang membuktikan keberadaan fakta mengenai identitas Shorinji Kempo ini sendiri. dalam tulisan ini saya akan membedah dari sudut pandang sejarah dan konteks identitas Shorinji Kempo pada saat terbentuk.


    mitos dari pernyataan Shorinji Kempo sebagai awal dari berbagai beladiri selalu diceritakan dari Dharma Taishi yang berangkat ke Shaolin lalu membentuk beladiri Kung-Fu Shaolin dan akhirnya beladiri ini terpecah ke Utara dan Selatan oleh karena perang Boxer tahun 1900 yang menyebabkan kuil Shaolin menjadi hancur. hal yang harus diketahui disini sebenarnya cukup sederhana namun jika tidak dipahami akan sangat terlihat sebagai hal yang bersifat "iliterasi"(tidak membaca). 

           dalam buku karya Meir Shahar yang berjudul Shaolin and the Antiquity menjelaskan jika keberadaan Dharma Taishi yang datang ke kuil Shaolin memang tercatat dalam kurun waktu abad ke-6 masehi. Dalam rentang waktu tersebut hingga ke dalam waktu terjadinya perang boxer ada kurun waktu sekitar 1300 tahun. Apakah dalam rentang waktu ini tidak terjadi apa-apa?. tentunya tidak, faktanya malah dalam rentang waktu yang lama tersebut Shaolin sudah beberapa kali menjadi basis pelatihan militer serta beberapa kali menjadi lokasi strategis bagi perpolitikan kerajaan-kerajaan China. sehingga tidak heran jika Kuil Shaolin beberapa kali dirusak hingga luluh lantak oleh pihak berkuasa. 

    Lalu bagaimana dengan beladiri yang ada didalam Shaolin?. Perlu diingat jika Kuil Shaolin adalah tempat suci bagi praktisi agama Buddha, dalam tradisi keagamaan Buddha dan Hindu, melakukan ziarah ke kuil atau ke tempat-tempat suci merupakan hal yang harus dilakukan guna mendapat berkat atau hanya sekedar ibadah. keberadaan beladiri didalam Shaolin tidak muncul hanya didalam lingkungan kuil, para peziarah yang berada diluar lingkungan kuil cukup banyak juga yang mengembangkan beladiri dan mengajarkan bentuk beladiri yang mereka kembangkan ke para biksu Shaolin. Secara tidak langsung keberadaan kuil Shaolin tidak hanya sekedar sebuah tempat ritus religius namun juga sebagai ruang sosial bagi masyarakat China kala itu untuk mendalami agama dan beladiri.  Dari sini dapat kita pahami jika keberadaan beladiri dalam kuil Shaolin bukan hanya sebuah identitas, lebih dalam, hal ini juga menjadi sebuah kekayaan intelektual masyarakat yang dijaga dan dilestarikan oleh para biksu Shaolin.

    

    Lalu bagaimana dengan identitas Shorinji Kempo hingga meletusnya perang Boxer? satu hal yang harus dipahami disini sebenarnya ada pada konteks sejarah yang mengenai keberadaan beladiri Shorinji Kempo beserta munculnya pemberontakan para kaum boxer pada tahun 1900. Pada konteks ini yang dapat kita gunakan untuk menjelaskannya adalah konteks global yang terjadi pada tahun 1800-1900. Konteks global yang terjadi pada saat ini adalah kondisi Perang Dunia ke-1 dan akan mengarah menjadi perang dunia ke-2. 

    Secara identitas keberadaan Shorinji Kempo dimulai dari So-Doshin sebagai pendiri dan hal ini secara tidak langsung juga terikat pada perjalanan hidup beliau yang terjadi di era awal tahun 1900an. So-Doshin lahir di Okayama pada tahun 1911 dan diasuh oleh kakeknya So-Shigeto pada tahun 1927 di Manchuria. Dalam konteks global yang terjadi pada masa itu, daerah China terutama Manchuria, Peking dan Shanghai merupakan wilayah international yang ditempati oleh beberapa warga negara. Hal ini dikarenakan keberadaan China secara politik merupakan wilayah dagang internasional pasca perang dunia pertama. 

    Secara khusus keberadaan politik di China tidak begitu baik hingga pada akhirnya ketika tahun 1900 terjadi peristiwa pemberontakan boxer. Dalam konteks politik China keberadaan kaum Boxer ini adalah identitas dari kelompok yang menentang keberadaan kaisar oleh karena mereka menilai posisi kaisar sudah terlalu kolutif dengan kerjasama internasional. Secara khusus keberadaan identitas kelompok Boxer ini menjadikan kubu politik didalam negeri China menjadi terpecah dan melemahkan kekuatan militer China. Akibat konflik dalam negeri ini akhirnya China pada tahun 1891-1895 mengalami kekalahan ketika perang Sino-Japan. dari kekalahan inilah Jepang mendapat hak menempati wilayah Manchuria bersama dengan beberapa negara Eropa lain. Sehingga jika dikatakan pemberontakan kelompok bokser menyebabkan keberadaan para biksu Shaolin membuat institusi beladiri seperti Muay-Thai, Karate, Aikido, Judo dll sudah pasti adalah sebuah kesalahan dan tidak berdasar pada fakta yang koheren dengan data historis.

    Dari sini seharusnya sudah dapat disimpulkan jika keberadaan identitas Shorinji Kempo sangat jauh dari ide mengenai keberadaan keilmuannya sebagai pusat dari segala jenis beladiri.

     Shorinji Kempo lahir sebagai sebuah institusi pada tahun 1946, dalam momen ini keberadaan ide yang dibawa oleh So-Doshin adalah pengembangan mental dan fisik untuk meningkatkan moral masyarakat muda. Secara iddentitas keberadaan beladiri Shorinji Kempo merupakan hasil dari pembelajaran So-Doshin selama berada di Manchuria hingga ke Shaolin lalu kembali lagi ke Jepang. 

    Dari sini seharusnya sudah bisa kita buktikan jika keberadaan Shorinji Kempo bukan merupakan mitos yang dicceritakan melalui pernyataan spektakuler yang menimbulkan kekaguman namun ahistoris. shorinji Kempo sebagai sebuah beladiri sejatinya sangat terbukti sebagai sebuah beladiri yang cukup adaptif oleh karena upaya So-Doshin membuat sistem pembelajaran yang sangat sesuai dengan nilai humanism. Namun satu hal yang harus terus dipelajari adalah mengenai keberadaan literatur dan data sejarah yang perlu kembali ditelaah sebagai acuan dasar dari didentitas Shorinji Kempo. Oleh karena keberadaan identitas bukanlah sebuah hal yang berdiri sendiri namun ada karena dinamika sosial yang terus berjalan dan membangunnya. 


Sumber literatur 

-Meir Shahar: The Shaolin Monastery : history, religion and the chinese martial art

-So-Doshin : What is Shorinji Kempo

-Paul Bowman : Deconstructing martial art

-Harumi Goto-Shibata : Japan and Britain in Shanghai, 1925-1931 

    

    



Komentar