Dalam praktek pelatihan beladiri banyak praktisi dan juga atlet didalamnya menyinggung keberadaan pembelajaran filosofis yang terkandung didalam institusi beladiri ataupun dalam identitas beladiri ini sendiri. Ide mengenai beladiri dengan keberadaan filosofis didalamnya memang bukanlah hal yang baru. Setiap kita mempelajari beladiri pasti akan ada pembelajaran akan filsafat didalamnya. Namun permasalahannya, mengapa ide tentang filsafat dalam beladiri tidak pernah dengan baik dipelajari? dan selalu hanya sebatas dalam pelatihan atlet?
Mungkin hal ini dapat ditemukan dalam referensi yang ditulis oleh Debra Hawhee dalam bukunya yang berjudul Bodily Art. dalam referensi ini penjelasan mengenai dunia atlet dan dunia pendidikan sedikit disibak dalam sebuah momen pertandingan yang disebut sebagai Agon. Agon disini adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut pertandingan atau perlombaan dari para atlet yang hidup di Jaman Yunani. fungsi dari Agon bukan hanya untuk menunjukan kemampuan seseorang mengolah tubuh dan menjadikan dirinya tampil dengan baik dalam sebuah pertandingan, namun lebih jauh didalam Agon keberadaan kemampuan atlet untuk berbiccara dan mengemukakan ide adalah sebuah keharusan.
keberadaan Agon disini tidak hanya sebuah keharusan untuk memenangkan pertandingan dan menjadi individu yang dominan, namun lebih jauh keberadaan Agon ini sendiri adalah sebuah proses untuk mencapai penyempurnaan diri secara fisik dan membentuk karakter melalui upaya kompetisi olahraga. Secara keseluruhan isi dalam sebuah Agon adalah pertandingan beladiri atau Pargiaton serta pertandingan Atletik.
Konsep Agon dijaman baru
konsep lama ini jika kita sandingkan dengan berbagai ide dalam berbagai institusi beladiri memang terdengar mirip, namun dala hal pencapaian filosofisnya keberadaan pengajarannya cukup berlainan. Dalam Agon keberadaan nilai filosofis memang masih sangat luas apa yang akan dibahas didalamnya. mengingat konteks Agon yang hidup dijaman Yunani kuno maka upaya pembelajaran didalam Agon dapat mengarah pada berbagai bidang. berbeda dengan beladiri saat ini yang kita pahami, keberadaan pemahaman filosofis selalu dominan pada pengembangan karakter yang mengedepankan nilai kemanusiaan yang penuh pengertian dan cakap dalam merefleksikan nilai-nilai kehidupan ala filsafat timur.
seccara tidak kita sadari keberadaan historis dalam suatu institusi beladiri menjadi sebuah patok awal bagi masing-masing praktisi untuk mempelajari nilai filosofis apa yang akan dipelajari dan dikembangkan. Suatu institusi beladiri selalu berdiri dengan sebuah latar belakang sejarah serta suatu kondisi tertentu yang menuntut dibentuknya sebuah institusi beladiri. Dalam hal ini suatu beladiri sudah pasti memiliki kebutuhan tertentu untuk bisa dibentuk sebagai sebuah institusi. Dari latar belakang ini seharusnya nilai filosofis tertentu dapat dilihat dan disimpulkan untuk dilihat hubungannya dengan konsep kebertubuhan yang diolah melalui bentuk-bentuk gerakan.
namun sayangnya keberadaan konteks ideologi ini tidak pernah terbentuk sempurna dalam kondisi atlet saat ini. setiap kali kita menyinggung istilah atlet beladiri hal yang selalu terbesit adalah imaji tentang atlet yang kuat, jago berkelahi, berkemampuan fisik luar biasa dan mempu melakukan hal-hal yang mungkin diluar kewajaran seperti bisa tenaga dalam dan lainnya. Hal semacam ini secara tidak langsung juga mengenai praktisi beladiri pada umumnya, keberadaan imaji atlet yang superior dan selalu menguasai arena adalah sebuah keinginan yang ingin dicapai sebagai sebuah upaya dalam berlatih beladiri.
Menjadi dan mengulangi Agon
upaya menjadi ahli dalam pertandingan dan mampu untuk selalu mendominasi lawan adalah sebuah tuntutan yang secara mendalam ditanamkan oleh pelatih dan atlet beladiri. dalam hal ini keberadaan pola membentuk tubuh dan kemampuan fisik yang sangat tangguh ini memang juga terjadi dalam Agon sebagai sebuah kondisi yang disebut Arete. namun Arete didalam Agon tidak berdiri hanya sebatas menjadi dominan dalam pertandingan. konsep Arete muncul dalam Agon oleh karena konsep ini berdasar pada ide mengenai idividu yang mengembangkan dirinya sesuai dengan kriteria keindahan dan kekuatan yang ideal seperti halnya para dewa. Sehingga keberadaan Arete didalamnya tidak hanya sebatas berpenampilan fisik menarik dan bugar namun juga berintegritas dan mampu berorasi.
jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, keberadaan arete bukanlah untuk mengembangkan kemampuan pada tahap integritas tertentu layaknya atlet Agon jaman Yunani. keberadaan Arete saat ini sudah sangat terbatas dengan tujuan mencapai tuntutan materialistis. secara tidak langsung keberadaan Arete pada atlet beladiri bukan lagi membentuk karakter namun menjadi petarung yang handal dalam mendominasi lawan untuk menang dan mendapat hadiah. dengan kata lain Arete dalam momen saat ini adalah sebuah pola pembentukan atlet beladiri yang sangat menyesuaikan dengan peraturan pertandingan yang dibutuhkan.
pola ini sangat sesuai dengan pola kebutuhan olahraga dalam masyarakat modern yang menghidupi konteks kapitalism. dimana kebutuhan akan materi untuk konsumsi adalah sebuah keharusan dan sebuah jalan hidup. secara tidak langsung keberadaan arete dari atlet modern adalah untuk memenuhi hal ini. dalam konteks beladiri hal ini sesungguhnya bertentangan dengan pembelajaran nilai humanism yang ada. sebagian besar keberadaan beladiri yang berkembang di masyarakat adalah beladiri timur yang berasal dari Jepang, China dan Korea. salah satu ciri dalam ide filosofis yang dibawa oleh beladiri ini adalah mengenai kesadaran akan empati serta nilai pengorbanan. dalam cara pandang kapitalism keberadaan nilai pengorbanan merupakan suatu hal yang harus diolah pada suatu bentuk usaha untuk memperolah penghasilan yang lebih. namun nilai ini pada prakteknya banyak membentuk pola sikap yang lebih mementingkan kebutuhan diri sendiri dan mengorbankan pihak lain agar mendapat hasil lebih bagi diri sendiri.
secara keseluruhan pola pelatihan saat ini memang merupakan suatu pola pelatihan yang kehilangan pemahaman akan bagaimana upaya filosofis ini dilakukan didalam pelatihan beladiri modern. keberadaan nilai filosofis juga sangat minim dalam upaya pemahamannya sehingga seluruh upaya pelatihan beladiri memang lebih mudah dilakukan sesuai dengan nilai hidup yang paling umum dipahami oleh masyarakat saat ini.

Komentar